cerita dewasa dengan ibu mertua
Mertuakumendadak memelukku dari belakang, "Gita, kamu merangsang sekali deh". Aku terkejut dengan ulahnya yang belum pernah dilakukan, tapi aku membiarkannya saja. Aku malah merasa tersanjung dengan pujian yang jarang sekali terucap dari suamiku. "Pah, nanti dilihat orang lo, pintunya masih terbuka", kataku.
BosheDewasa- Bercinta Dengan Ibu Tiriku Yang Super Hot - Perkenalkan Nama ku Nando, Hari Minggu ini bergotong-royong saya sedikit malas dgn usul ayahku semoga saya mengantar Bu Titis (ibu tiriku), Ia ialah istri ke3 ayahku. Karena Bu Titis orangnya sangat judes, galak, pelit dan sombong, saya sangatsangat membencinya.
CeritaDewasa Desahan Mama Mertua Yang Hot - Namanya Diki dan dia sudah berusia 24 tahun, banyak yang bilang bahwa wajahku tampan dan tak heran kalau banyak wanita yang tergila gila padaku. Aku bekerja di perusahaan asing sebagai management. Kejadian ini berawal pada saat aku hidup berumah tangga, sudah 1 tahun lebih aku hidup berumah tangga, tapi belum juga dikaruniai seorang anak. aku
Akukadang-kadang sagat merasa bersalah dengan Riris istriku, dan juga ayahku mertua yang baik hati. Kadang-kadang aku demikian kurang ajar membayangkan ibu mertuaku disetubuhi ayah mertuaku, aku bayangkan kemaluan ayah mertuaku keluar masuk vagina ibu mertuaku, Ooh alangkah! Tetapi aku selalu menaruh hormat kepada ayah dan ibu mertuaku.
CeritaDewasa - Kenalkan nama saya Eko, 17 tahun, dan Kiki, 16 tahun.. cerita ini terjadi 7 bulan yang lalu dan sejauh ini semuanya dimulai ketika saya pulang dari sekolah di sore hari, kos saya dan Kiki hanya bersebelahan . dan saat itu kamar kiki tidak terkunci, jadi saya hanya pergi ke kamar kiki untuk mengajaknya makan. Ketika saya masuk, saya melihat Kiki tidur tanpa selimut.
Single Hard Returns To Separate Paragraphs. Namaku Heri, umurku sekarang ini 26 tahun. Ini adalah pengalamanku yang benar-benar nyata dengan Ibu mertuaku. Umurnya belum terlalu tua baru sekitar 45th. Dulunya baru umur 18 tahun dia sudah kimpoi. Ibu mertuaku bentuk tubuhnya biasa-biasa saja malah boleh dikatakan langsing dan singset seperti perawan. Tak heran sebab hingga kini ia masih mengkonsumsi jamu untuk supaya selalu awet muda dan langsing. Singkat cerita ketika istriku baru melahirkan anak pertama dan aku harus puasa selama sebulan lebih. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana pusingnya aku. Hingga suatu saat aku mengantar Ibu mertuaku pulang dari menengok cucu pertamanya itu. Aku biasa mengantarnya dengan motorku. Namun kali itu turun hujan ditengah perjalanan. Karena sudah basah kuyup dan hari sudah menjelang tengah malam aku paksakan untuk menerobos hujan yang deras itu. Setiba dirumah aku ingin segera membersihkan badan lalu menghangatkan badan. Di rumah itu hanya ada aku dan Ibu mertuaku karena kakak iparku tinggal ditempat lain. Sedangkan adik iparku yang biasa menemani Ibu mertuaku dirumah itu untuk sementara tinggal dirumahku untuk menjaga istriku. “Kamu mandi aja deh sana, Her” Kata Ibu mertuaku menyuruhku mandi “Ah.. nggak usah.. Ibu duluan deh” Kataku menolak dan menyuruhnya agar lebih dulu “Udah.. Ibu disini aja” Kata Ibu mertuaku yang memilih tempat cuci baju dan cuci piring diluar kamar mandi. Karena disitu juga ada air keran. “Yah.. udah deh” Kataku sambil mendahuluinya masuk ke kamar mandi. Suasana waktu itu agak remang-remang karena lampu penerangannya hanya lampu bohlam 5 watt. Aku iseng ingin tahu bentuk tubuh Ibu mertuaku yang sebenarnya ketika ia telanjang bulat. Maka aku singkapkan sedikit pintu kamar mandi dan menontonnya melepas satu per satu bajunya yang sudah basah kuyup karena kehujanan. Dia tidak tahu aku menontonnya karena dia membelakangiku. Aku perhatikania mencopot kaus T-shirt-nya ke atas melewati bahu dan lehernya. Lalu BH-nya dengan mencongkel sedikit pengaitnya lalu ia menarik tali BH-nya dan BH itupun terlepas. Adegan yang paling syur ialah ketika ia membuka celana panjang jeansnya. Sret.. celana jeans ketat itu ditariknya ke bawah sekaligus dengan CD-nya. Jreng..! Aku lihat kedua buah pantatnya yang kencang dan montok itu menantangku. Aku yang sudah tak merasakan sex selama satu bulan lebih dan lagi dihadapkan dengan pemandangan seperti itu. Aku nekat untuk mendekatinya dan aku peluk dia dari belakang. “Eh.. Her.. ini apa-apaan.. Her” hardik Ibu mertuaku. “Bu.. tolongin saya dong, Bu” rayuku “Ih.. apaan sih..?!” Katanya lagi “Bu, udah dua bulan ini saya nggak dapet dari Dewi.. tolong dong, Bu” bujukku lagi “Tapi aku inikan ibumu” Kata Ibu mertuaku “Bu.. tolong, Bu.. please banget” rayuku sambil tanganku mulai beraksi. Tanganku meremas-remas buah dadanya yang ukurannya sekitar 34b sambil jariku memelintir putting susunya. bibir dan lidahku menjilati tengkuk lehernya. Tanganku yang satu lagi memainkan klentit-nya dengan memelintir daging kecil itu dengan jariku. Batang penisku aku tekan dilubang pantatnya tapi tidak aku masukkan. Ibu mertuaku mulai bereaksi. Tangannya yang tadi berusaha meronta dan menahanku kini sudah mengendor. Dia membiarkanku memulai dan memainkan ini semua. Nafasnya memburu dan mulai mendesah-desah. “Dikamar aja yuk, Bu” bisikku Aku papah Ibu mertuaku menuju kamarnya. Aku baringkan dia tempat tidur. Aku buka kedua kakinya lebar-lebar dan sepertinya Ibu mertuaku sudah siap dengan batang penisku. Tapi aku belum mau memulai semua itu. “Tenang aja dulu, Bu. Rileks aja, Ok?” Kataku. Aku mengarahkan mukaku ke liang vaginanya dan aku mulai dengan sedikit jilatan dengan ujung lidahku pada klentitnya. “Ough.. sshhtt.. ough.. hmpf.. hh.. ooghh” Ibu mertuaku mendesah dan mengerang menahan kenikmatan jilatan lidahku. Dia sepertinya belum pernah merasakan oral sex dan baru kali ini saja ia merasakannya. Terlihat reaksi seperti kaget dengan kenikmatan yang satu ini. “Enak kan, Bu..?” Kataku “Hmh.. kamu.. sshtt.. kamu.. koq.. gak jijik.. sih, Her?” Tanyanya ditengah-tengah desah dan deru nafasnya. “Enggak, Bu.. enak koq.. gimana enak gak?” “Hmh.. iyahh.. aduh.. sshhtt.. eenak.. banget.. Her.. sshhtt” jawab Ibu mertuaku sambil terus merintih dan mendesah. “Itu baru awalnya, Bu” Kataku. Kali ini aku kulum-kulum klentitnya dengan bibirku dan memainkan klentit itu dengan lidahku. Aku lihat sekujur tubuh Ibu mertuaku seperti tersetrum dan mengejang. Ia lebih mengangkat lagi pinggulnya ketika aku hisap dalam-dalam klentitnya. Tak sampai disitu aku terobos liang vaginanya dengan ujung lidahku dan aku masukkan lidahku dalam-dalam ke liang vaginanya itu lalu aku mainkan liukkan lidahku didalam liang vaginanya. Seiring dengan liukanku pinggul Ibu mertuaku ikut juga bergoyang. “Ough.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. oughh.. hmh.. ough.. shhtt.. ough.. hmh.. oufghh.. sshhtt” suara itu terus keluar dari mulut Ibu mertuaku menikmati kenikmatan oral sex yang aku berikan. Aku sudahi oral sex ku lalu aku bangun dan berlutut dihadapan liang vaginanya. Baru aku arahkan batang penisku ke liang vaginanya tiba-tiba tangan halus Ibu mertuaku memegang batang penisku dan meremas-remasnya. “Auw.. diapain, Bu..?” Tanyaku “Enggak.. ini supaya bisa lebih tahan lama” Kata Ibuku sambil mengurut batang penisku. Rasanya geli-geli nikmat bercamput sakit sedikit. Sepertinya hanya diremas-remas saja tetapi tidak ternyata ujung-ujung jarinya mengurut urat-urat yang ada dibatang penis untuk memperlancar aliran darah sehingga bisa lebih tegang dan kencang dan tahan lama. “Guedhe.. juga.. punya kamu, Her” Kata Ibu mertuaku sambil terus mengurut batang penisku. “Iya dong, Bu” Kataku. Kali ini kedua tangan Ibu mertuaku beraksi mengurut batang penisku. Tangan yang satunya lagi mengurut-urut buah pelirku dan yang satu lagi seperti mengocok namun tidak terlalu ditekan dengan jari jempol dan telunjuknya. Tak lama kemudian.. “Egh.. pelan-pelan.. yah sayang” Kata Ibu mertuaku sambil menyudahi pijatan-pijatan kecilnya itu dan mewanti-wantiku supaya tidak terlalu terburu-buru menerobos liang vaginanya. Aku angkat kedua kaki Ibu mertuaku dan aku letakkan dikedua bahuku sambil mencoba menerobos liang vaginanya dengan batang penisku yang sedari tadi sudah keras dan kencang. “Ouh.. hgh.. ogh.. pelan-pelan, Her” Kata Ibu mertuaku ditengah-tengah deru nafasnya. “Iya, Bu.. sayang.. egh.. aku pelan-pelan koq” Kataku sambil perlahan-lahan mendorong penisku masuk ke liang vaginanya. “Ih.. punya kamu guedhe banget, sayang.. ini sih.. gak normal”Katanya “Kan tadi udah diurut, Bu” Kataku. Aku teruskan aksiku penetrasiku menerobos liang vaginanya yang kering. Aku tidak merasa istimewa dengan batang penisku yang panjangnya hanya 15cm dengan diameter sekitar 3 cm. Dengan sedikit usaha.. tiba-tiba.. SLEB-SLEB-BLESSS! Batang penisku sudah masuk semua dengan perkasanya kedalam liang vagina Ibu mertuaku. “Ough.. egh.. iya.. sshh.. pelan-pelan aja yah, sayang” Kata Ibu mertuaku yang mewantiku supaya aku tidak terlalu terburu-buru. Aku mulai meliukkan pinggulku sambil naik turun dan pinggul Ibu mertuaku berputar-putar seperti penyanyi dang-dut. “Ough.. gilaa, Bu.. asyik.. banget..!” Kataku sambil merasakan nikmatnya batang penisku diputar oleh pinggulnya. “Ough.. sshtt.. egh.. sshh.. hmh.. ffhh.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. oughh” Ibu mertuaku tidak menjawab hanya memejamkan mata sambil mulutnya terus mendesah dan merintih menikmati kenikmatan sexual. Baru sekitar 30 menit aku sudah bosan dengan posisi ini dan ingin berganti posisi. Ketika itu kami masih dalam posisi konvensional. Aku mau menawarkan variasi lain pada Ibu mertuaku.. “Eh.. Ibu yang di atas deh” Kataku. “Kenapa, sayang.. kamu capek.. yah..?” Tanyanya. “Gak” jawabku singkat. “Mo keluar yah.. hi.. hi.. hi..?” Godanya sambil mencubit pantatku. “Gak.. ih.. aku gak bakalan keluar duluan deh” Kataku sesumbar. “Awas.. yah.. kalo keluar duluan” Goda Ibu mertuaku sambil meremas-remas buah pantatku. “Enggak.. deh.. Ibu yang bakalan kalah sama aku”Kataku sombong sambil balas mencubit buah dadanya “Auw.. hi.. hi.. hi” Ibu mertuaku memekik kecil sambil tertawa kecil yang membuatku semakin horny. Dengan berguling ke samping kini Ibu mertuaku sudah berada di atas tubuhku. Sambil menyesuaikan posisi sebentar ia lalu duduk di atas pinggulku. Aku bisa melihat keindahan tubuhnya perutnya yang rata dan ramping. Tak ada seonggok lemakpun yang menumpuk diperutnya. Buah dadanya juga masih kencang dengan putting susu yang mengacung ke atas menantangku. Aku juga duduk dan meraih putting susu itu lalu ku jilat dan ku kulum. Ibu mertuaku mendorongku dan menyuruhku tetap berbaring seolah-olah kali ini cukup ia yang pegan kendali. Ibu mertuaku kembali meliuk-liukkan pinggulnya memutar-mutar seperti Inul Daratista. “Egh.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. ough.. egh.. hmf” desah Ibu mertuaku. “Gila, Bu.. enak banget..!” “Ough.. sshhtt.. ough.. sshtt.. ough” Ibu mertuaku mendesah dan merintih sambil terus meliuk-liukkan pinggulnya memainkan batang penisku yang berada didalam liang vaginanya. Tanganku meremas buah dadanya yang tak terlalu besar tapi pas dengan telapak tangan. Tanganku yang satunya lagi meremas buah pantatnya. Batang penisku yang kencang dan keras terasa lebih keras dan kencang lagi. Ini berkat pijatan dari Ibu mertuaku tadi itu. Bisa dibayangkan jika tidak aku sudah lama orgasme dari tadi. “Ough.. sshtt.. emh.. enagh.. egh.. sshhtt.. ough.. iyaahh.. eeghh.. enak.. ough” liukan pinggul Ibu mertuaku yang tadinya teratur kini berubah semakin liar naik turun maju mundur tak karuan. “Ough.. iiyyaahh.. egghh.. eghmmhhff.. sshhtt.. ough.. aku udah mo nyampe” Kata Ibu mertuaku. “Bu.. aku juga pengen, Bu.. egh” Kataku sambil ikut menggoyang naik turun pinggulku. “Egh.. iyah.. bagusshh.. sayangg.. ough.. sshhtt.. ough.. sshtt.. ough” Ibu mertuaku merespons gerakanku untuk membantunya orgasme. Aku mempercepat goyanganku karena seperti ada yang mendesak dibatang penisku untuk keluar juga. “Hmfh.. terusshh.. iyah.. ough.. oughh.. AAAUGHH.. OUGH.. OUGH.. OUGH” Ibu mertuaku telah sampai pada orgasmenya. Pada batang penisku terasa seperti ada cairan hangat mengucur deras membasahi batang penisku. Ibu mertuaku menggelepar dan diakhiri dengan menggelinjang liar dan nafasnya yang tersengal. Ibu mertuaku telah berhenti melakukan liukan pinggulnya. Hanya denyutan-denyutan kencang didalam liang vaginanya. Aku merasakan denyutan-denyutan itu seperti menyedot-nyedot batang penisku Dan.. CROT.. CROTT.. CROTTT..! muncrat semua air maniku diliang vagina Ibu mertuaku. “Bu, kerasa nggak air mani saya muncratnya..?” Tanyaku “Eh.. iya, Heri sayang.. Ibu udah lama pengen beginian” Kata Ibu mertuaku “Iya.. sekarang kqn udah, Bu” Kataku sambil mengecup keningnya “Oh.. kamu.. hebat banget deh, Her” Kata Ibu mertuaku sambil membelai-belai rambutku. “Itu semua kan karena Ibu” Kataku memujinya “Ih.. bisa aja.. kamu” sahut Ibu mertuaku sambil mencubit pinggulku. Ibu mertuaku masih di atas tubuhku ketika HP-ku berbunyi ternyata dari istriku yang menyuruhku supaya menginap saja dirumah Ibu mertuaku. Setelah telepon di tutup aku memekik kegirangan. Setelah itu kami melakukan pemanasan lagi dan melakukannya sepanjang malam hingga menjelang subuh kami sama-sama kelelahan dan tidur. Entah sudah berapa kali kami bersenggama dalam berbagai posisi. Pagi harinya kami masih melakukannya lagi dikamar mandi untuk yang terakhir lalu setelah itu aku sarapan dan pulang.
Cerita 69 - Kepulan asap dari sebatang rokok ketengan menemani lamunanku siang itu, Deru kendaraan lalu lalang di antara alunan lagu dangdut dari TV pemilik warteg di mana aku menumpang duduk sambil ngopi tak mampu menggugah pikiranku yang melayang entah kemana. “Ngelamun aja lo, kangen bini ya?’’, tegur Bejo, rekan sesama tukang ojek tempat kami bersama mangkal. Aku hanya membalas dengan senyuman. “ Bu…kopi satu,’’ ujarnya kepada pemilik warung. “Catur , Den?” ujarnya.”halah…bosen, dari pagi main sama si Ujang, entar situ kalah lagi”, Bejo hanya nyengir mendengar jawabanku. Siang ini memang pikiranku tengah galau, mengenang peristiwa tadi malam dan pagi hari tinggal menumpang mertua di sebuah rumah sederhana di kampung perbatasan jakarta. Kami berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Isteriku terpaksa menjadi TKI di Arab Saudi untuk memperbaiki kreditan yang aku pakai untuk mengojek ini juga hasil jerih mertua juga sama saja, ayah isteriku adalah tukang bangunan yang lebih sering keliling dari satu proyek ke proyek lain daripada dirumahnya sendiri, kadang berbulan-bulan tidak demikian aku memanggilnya, dulu sangat keras menolak pernikahan kami, ya wajar, sudah susah kok dapat mantu yang juga susah. Sementara ibu mertua kebalikannya, ia sosok ibu yang lembut dan baik hati. Mau bagaimana lagi kalau memang sudah jodohnya. Dulu aku sempat bekerja di pabrik sebelum akhirnya bangkrut dan aku kena PHK. Pernikahan kami menghasilkan seorang anak usia 2,5 tahun yang kini diasuh neneknya, ibu itu hujan sangat deras menghujam bumi. Aku tengah lesehan di atas tikar lusuh menonton TV ketika tiba-tiba ibu mertua tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya menuju kamar mandi , lalu terdengar suara seperti orang muntah. Aku menyusulnya,’’ada apa Bu? Masuk angin?, ia mengangguk lemah. “Saya panggilkan Teh Nining sebelah ya bu? Tawarku. “Gak usah, den, gak enak udah malam begini…mana hujan lagi”, jawabnya. “kalau gitu saya bikinin teh panas ya bu, saya juga masih punya obat neh”, ibu mengangguk lalu berjaan menuju kamarnya. Setelah mengantarkan teh dan obat flu, kembali aku berbaring di ruang tamu sederhana itu sampai akhirnya aku dinding kusam itu menunjukan pukul malam ketika aku mendadak terbangun karena kembali ibu muntah-muntah di kamar mandi. Dengan segera aku menyusulnya,’’Ibu muntah lagi?”, tanyaku…ia mengangguk lemah dan berkata ’, Ibu kalau belum dikeroki biasanya belum mempan, tapi mau bagaimana lagi,’’ jawabnya pasrah. Entah muncul ide darimana,’’ ya udah, biar saya yang ngeroki bu, ibu tunggu aja di kamar’’, jawabku dan ibu sepertinya tidak menolak kecuali ia menginginkan muntah-muntah lagi. Aku bergegas menuju dapur, mencari piring kecil alas gelas dan menumpahkan sedikit minyak goreng, tinggal 1 koin seratusan lama yang kebetulan aku masih menyimpan beberapa. Agak sedikit kaget setibanya aku di kamar, mendapati ibu telah berganti pakaian yang semula daster panjang kini kain kemben batik yang warnanya telah lusuh. Namun bukan itu yang membuat aku menelan ludah, tapi kemben sebatas dada itu telah menampakan bahu ibu yang ternyata kuning bersih, ditambah ketatnya kain itu menampakan lekak lekuk tubuhnya yang masih menampakan keindahan di usianya yang 45 tahun itu. Namun pikiran kotor segera kusingkirkan, bagaimanapun ia adalah orang tua isteriku yang harus aku mengeroki punggungnya dalam posisi ibu duduk membelakangiku di atas ranjang tua di mana anakku juga tengah tertidur di atasnya. Selesai,di bagian pangkal leher dan bahunya, kini gilirang punggung bagian tengah,”maaf bu, kainnya bisa diturunkan sedikit?’, pintaku karena kain kemben itu menghalangi. Ibu mengangguk pelan dan membuka ikatan kain tersebut namun karena kurang hati-hati kain itu melorot hingga pantatnya yang dibungkus celana dalam putih lusuh, dan yang membuat sesuatu di balik celanaku tak bisa diajak kompromi adalah karena sekilas sisi payudaranya terlihat. Ibu segera membenahinya dan mendekap sarung batik itu didadanya, dan aku seolah-olah tak melihat pemandangan indah itu kembali melanjutkan kerokan ku. Peluh mulai bercucuran di dahi ku, bukan hanya karena mengeluarkan tenaga tetapi juga menahan hasrat yang terpendam, setelah setahun berlalu tanpa sentuhan isteriku. Paling maksimal aku hanya bisa melakukan masturbasi untuk sekedar pelampiasan. “Ibu kalau capek, baring aja”, pintaku dan ibu menuruti dengan berbaring tengkurap sehingga aku bisa melanjutkan mengeroki punggung mulusnya itu, yang tampak berkilauan terkena sinar redup lampu kamar, belang-belang merah bekas kerokan tak bisa menghilangkan keindahannya. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Aku terus bekerja sampai kemudian kudengar dengkuran halus keluar dari mulutnya, ibu tertidur. Dan entah kenapa aku tak serta merta menghentikan kerokan, seolah-olah ingin lebih lama menikmati pemandangan sensual tubuhnya. Khawatir ibu terbangun tiba-tiba, kini aku hanya memijat-mijat pelan pinggangnya…terus ke bawah hingga tumpukan daging kenyal pantatnya yang membusung tanganku gemetar, namun menyadari ibu seolah-olah kian tenggelam di alam mimpi, aku makin memberanikan diri. Entah setan mana yang mengendalikanku, usai berlama-lama menjamah pantatnya, kini kucoba pelorotkan sarungnya ke bawah. Mataku nanar menyaksikan bayangan belahan pantatnya dibalik celana dalam lusuh yang menipis akibat keseringan di cuci itu, mana berlubang di sana-sini menampakan kulit di belakangnya, desakan batang kontolku kian mendesak celana pendek yang kupakai, menciptakan semacam tenda kecil di antara selakanganku. Dengan tangan gemetar ku pelorotkan celana dalam ibu secara perlahan, hubungan mertua-menantu ke depan dipertaruhkan dalam aksi nekat itu. Gerakanku terhenti ketika tepi paling atasnya tiba di pangkal paha ibu mertua yang agak merapat itu. Tentu saja bentuk pantat bahenol itu, bayangan hitam lubang anusnya dan tumpukan rambut hitam di bawahnya membuat aku kehilangan kontrol. Ku oleskan sebagian minyak goreng itu di atas pantat ibu, sambil meremas-remasnya, dan kini berkilauan sebagaimana punggung ibu jantung berdegup, ku turunkan celana pendekku, lalu merangkap di atas tubuh tengkurap ibu yang sangat nyenyak tertidur, namun kuupayakan tidak menindihnya. Ku selipkan batang kemaluanku yang sedari tadi sangat mengeras di antara belahan pantat ibu, lalu mulai menggosok-gosokannya pelan, sehati-hati mungkin agar ia tak terbangun. Tapi sensasi yang kurasakan sangat luar biasa, anda akan paham jika lama tak merasakan kenikmatan tubuh wanita. Mataku menyaksikan wajah ibu yang damai dalam tidurnya, ia cukup manis walau mungkin jarang tersentuh make up, ingin rasanya kuciumi pipinya tapi tentu beresiko. Dan tak menunggu lama ketika aku mengejang lalu semburan demi semburan sperma hangat ..dan sangat banyak, hingga di pantat, punggung, bahkan leher ibu. Lama aku mematung hingga denyutan-denyutan orgasmeku hilang dan kemaluanku mulai mengerut. Baru kemudian aku beranjak….kepanikan kecil melandaku melihat lelehan benihku di atas tubuh ibu. Ku lepaskan kaus kumal yang kupakai, dan kugunakan sebagai lap menghilangkan jejak-jejak tindakan mesum yang kulakukan malam itu. Dengan terburu-buru kurapikan kain kemben ibu, dan bergegas keluar kamar. Usai dari kamar mandi kembali kubaringkan tubuh,’’ apa yang kau lakukan”, pikirku…namun akhirnya terlelap juga….dengan rasa biasa, pukul setengah enam pagi aku terbangun, usai sekedarnya membersihkan rumah, ku sempatkan mengintip kamar ibu. Ia masih tertidur, kain kembennya sudah terikat di dada, namun agak tersingkap di bagian paha, membuat aku kembali menelan ludah. Di sebelahnya, anakku telah terbangun, tengah asyik memainkan mobilannya sambil berbaring. Aku kemudian mandi, sedikit tertegun melihat kaus kumal tadi malam, lalu aku mencucinya.“Bu…ibu,”, panggilku mencoba membangunkannya sambil sedikit menepuk pundaknya. Matanya mulai membuka. “Sudah jam setengah delapan bu, ibu sudah enakan?”..ia mengangguk pelan,’’ tapi masih lemas Den, linu-linunya belum ilang, Ari mana?’’ tanya Ibu.”Sedang main di luar bu, sudah saya mandikan dan kasih sarapan, tadi saya belikan bubur ayam di depan, ibu sarapan ya?’’, jawabku sambil menawarkan bubur ayam. Ibu bangkit perlahan dan duduk di tepi ranjang, semangkuk bubur dan segelas teh kuletakan di atas meja kecil di dekat ranjang. Aku meninggalkannya. Dan tak lama kemudian kembali aku memasuki kamarnya dan menyerahkan obat,” lho..kok gak habis bu?”, tanyaku melhat bubur itu masih separuh tersisa.”Masih pahit Den’’, jawabnya. “Ya udah, ibu minum obat …air panas udah saya siapkan di kamr mandi”, ibu lalu meminum obat dengan perlahan…,”ibu masih pegal Den, mau istirahat lagi, ntar aja deh mandinya”, jawabnya. “ehmm…kalau gitu saya kompres aja ya bu”, tawarku…”gak usah repot…”, belum usai kalimatnya aku sudah setengah berlari ke dapur, mengambil handuk kecil dan baskom kecil lalu menuangkan air hangat ke sudah terbaring di kamar ketika aku masuk. Aku mengambil kursi kayu lalu duduk disampingnya, meremas handuk dan mulai secara lembut mengusap wajahnya. “Ibu jadi gak enak nih Den, jadi ngerepotin kamu”, katanya. “ah…ibu kan sudah seperti ibu saya sendiri”, jawabku sambil terus melapi leher, pundak hingga dada atasnya. Lalu kedua lengannya hingga ketiaknya yang putih dan sedikit ditumbuhi bulu itu, membuat senjata biologisku mulai berulah. “Ibu bisa tengkurap sebentar?”, pintaku pada ibu. Namun ibu justeru duduk membelakangiku untuk mempermudah melapi pungunggnya. Usai belakang leher hingga bahu sampai batas kain ,’’bisa turunin dikit kainnya bu?’’, tanpa berkata-kata ibu melepaskan ikatan sarungnya, dan kembali kunikmati punggung yang kini berbelang merah sampai batas pinggang itu, dengan lembut ku usap seluruh permukaan kulitnya dengan handuk basah hangat tadi, dan butiran keringat mulai muncul dari pori-pori kulitnya. Aku hanya bisa nyengir menyaksikan beberapa bercak sperma kering yang mengerak di kulit punggung ibu dan segera ku ibu tampak teratur, kali ini sasaranku bawah ketiak dan sisi samping tubuh ibu. Kulihat kulitnya bulu-bulu kuduknya keluar. Semakin sulit aku mengatur nafas manakal ujung jari ku menyentuh sisi payudaranya. Dan seperti sengaja, aku berlama-lama mengusapkan handuk itu di situ…”Den..”,teguran ibu menyadarkanku. Namun karena ia tak menyuruhku berhenti, aku lalu memindahkan usapan tanganku ke bagian depan tubuh ibu, yaitu perutnya yang masih tertutup sarung. Dan ibu tidak protes. Mula-mula bagian tengah, lalu bagian atas…kucoba terus mendesak ke atas dengan maksud menyentuh bagian bawah payudaranya, namun terhalang tangan ibu yang masih mendekap sarung itu di dada. Lalu kembali ke tengah perutnya..dan bawah…terus ke bawah pusarnya, sehingga sebagian jari ku tak sengaja menyelip di bagian atas celana dalamnya. Tangan ibu jatuh ke bawah mencoba mencegah aksiku lebih lanjut, namun munkin karena panik membuat payudaranya tersingkap, dan tak membuang waktu masih dengan handuk basah di tangan, ku usap-usap perhiasan alami kaum wanita itu, “Den..” seru ibu dengan suara nyaris berbisik…”ssshhh, tenang Bu” desisku menenangkan ibu yang kini nafasnya mulai tersendat-sendat. Aku belum melakukan tindakan lebih jauh kecuali melap dengan penuh kelembutan gunung kembar yang bahkan lebih besar dari punya isteriku itu, namun degupan jantung dan deru nafasku yang kian memacu sudah bisa menggambarkan betapa luar biasanya gairah yang ditimbulkan tubuh ibu kandung isteriku tidak tahu bagaimana perasaan ibu, yang aku tangkap hanya kuduknya yang merinding, lalu tubuhnya yang agak gemetar dan deru nafasnya yang mulai tak beraturan. Aku hanya bertindak mengikuti naluri…naluri seorang pria yang sekian lama tak merasakan kehangatan tubuh wanita. Ibu memegang kedua pergelangan tanganku, ada sedikit upaya menarik tanganku dari permukaan dadanya, namun aku sudah kehilangan kendali…handuk basah itu jatuh di pangkuannya, dan kini telapak dan jari jemariku mulai meremas-remas gundukan daging kenyal itu dan memilin-milin putingnya. Mulutku mengecup belakang leher dan pundak ibu. “Den….jangan”, ujarnya lirih…ketika satu tanganku mencoba masuk menyelusup celana dalamnya, ia memegang pergelangan tanganku yang sayangnya sudah berada di atas gundukan bulu-bulu hitam lebat di bawah pusarnya. Dan pertahanan moralku pun roboh, ku rebahkan tubuh ibu dan mulai menindihnya, ia melawannya dengan mencoba mendorong tubuhku, namun tentu saja apalah arti tenaga wanita separuh baya dibanding pemuda yang tengah terbakar nafsu.”Den…jangan, aku ini ibu mu…ibu mertua mu..mmmff”..ucapannya terhenti ketika kusumpal paksa mulutnya dengan mulutku…”mmmf…Den..mmmhh”, tangannya terus meronta namun kutangkap dan kurentangkan ke atas…membuatku tergoda untuk menciumi ketiaknya…” Den…apa kata orang nanti…ini gak bener..Den…ouhhf”, kembali kulumat bibirnya dan pergelangan tangannya ku tahan dengan satu tangan karena sebelah tanganku sibuk berupaya melepaskan celana yang kupakai. Ibu mulai menangis terisak, dan tubuhnya menggeliat-geliat melakukan perlawanan namun justeru menciptakan pemandangan sensual yang kian menggoda. Dan matanya membelalak dan kian panik ketika dengan paksa kurenggut celana dalamnya..”preekkk”, dan ia melakukan perlawanan terakhir dengan merapatkan kakinya, tetapi terlambat…satu lututku telah berada di antaranya, dengan paksa kulebarkan kakinya…batang kontolku sudah berada di antara dua pahanya..mencari-cari sebentar dan..kurasakan tumpukan bulu-bulu di ujung kepala jamur kelaminku itu…dan akhirnya menemukan sasarannya…celah di antara perbukitan rumput hitam itu, yang ternyata…telah basah. Sehingga dengan sedikit mudah benda tumpul itu mulai mendesak masuk….dan rasanya bahkan lebih sempit dari rongga vagina isteriku….apakah karena ibu juga jarang disentuh bapak mertua? Wajah ibu hanya meringis pasrah, air matanya mengalir menemani isakan dari mulutnya.”maafkan aku, bu…aku sayang ibu, aku butuh ibu, ibu juga kan?”, ujarku dengan mesra di depan wajah ibu sambil berusaha mengayun-ayunkan pinggulku. Ibu hanya terisak dan menggigit jarinya, dengan liar aku mulai memompa tubuhnya…oh luar biasa nikmatnya. Mula-mula perlahan sampai makin cepat dan ganas menyebabkan tubuh ibu dan payudaranya berguncang-guncang, sangat sayang jika disia-siakan, maka segera kutangkap gunung kembar yang tengah diguncang gempa itu, dan kugigit ringan dua pucuknya bergantian, membuat ibu kian itu suasana sejuk berubah menjadi panas, tubuhku dan tubuh ibu mulai dibanjiri keringat. Kamar dengan cat mengelupas di sana sini itu seolah-olah berubah menjadi kamar pengantin yang indah, diiringi deritan ranjang tua yang bergerak dan suara kecipak dua kelamin beradu. Ku tarik tangan ibu dari mulutnya, ku lumat bibirnya yang memerah itu..”ouuhh..Den..mmmmf”, lenguhnya membuat aku kian brutal mengobrak-abrik liang senggamanya, liang yang telah menghadirkan istriku 25 tahun lalu itu. Ibu setengah menjerit ketika tiba-tiba dua kakinya dirangkulkan erat-erat di atas pinggangku dan kedua tangannya memeluk ketat diriku…ia telah mengalami orgasme, menyadari hal itu menimbulkan sensasi tersendiri hingga tak menunggu lama aku tak bisa lagi menahan ejakulasi ku, semprotan demi semprotan benih terlarang bagai air bah menerjang setiap sudut gua kenikmatan ibu mertuaku itu. Aku rebah di atas tubuh telanjang ibu, mencoba mengatur nafas, dan ibu mengusap-usap punggungku dan mengeramasi rambutku. Sampai akhirnya aku bangkit meninggalkan tubuh ibu dan mencabut kelaminku dari jepitan vaginanya. Dengan segera cairan putih kental mengalir keluar dari celah bibir kemaluannya, menciptakan danau kecil di atas sprei lusuh. Segera kusambar handuk basah tadi, ku basuhkan ke permukaan memek ibu dan sprei, lalu kuusapkan pula ke sekujur batang kontolku. Kemudian menyusul berbaring di sisi ibu menerawang ke langit-langit kamar tanpa plafon itu. Aku menatap wajahnya yang masih basah bekas sisa keringat dan air mata. Dadanya naik turun membawa serta dua gunung indah di atasnya, membuatku tergoda untuk menjamahnya. Ibu tidak protes…”Den…kenapa kamu lakukan itu, ini gak bener Den, ini dosa, apa kata tetangga nanti? Apa kata bapakmu? Apa kata Asih? Ujarnya lirih. “Ma’afkan saya bu…saya khilaf, saya lelaki normal bu, berpisah setahun dari Asih itu sangat berat buat saya bu..tapi mau bagaimana lagi? Saya pasrah…seandainya ibu mau mengusir saya silahkan, saya titip Ari aja bu”, jawabku. Ibu kembali menangis dan berujar..”ibu gak akan ngusir kamu Den…kamu telah baik selama ini membantu ibu, ini salah ibu juga, ibu minta ini jadi rahasia kita berdua Den”, “saya akan jaga rahasia ini Bu”, jawabku pelan sambil berupaya memeluknya, kali ini ibu dengan pasrah meringkuk dipelukanku dan menumpahkan tangisan di dadaku sampai akhirnya mereda, dan entah siapa yang mendahului kembali bibir kami saling mulai meremas-remas payudara montok milik ibu, sementara ibu dengan malu-malu mengusap-usap batang penisku yang kembali siap tempur. Pertarungan ronde kedua kembali dimulai. Menyadari ternyata ibu juga memendam hasrat, kali ini setiap adegan film-film porno yang biasa aku lihat bersama tetangga, kupraktekan. Aku bangkit mengangkangi dada ibu, kuarahkan batang penisku ke mulutnya, mula-mula ia jengah menolak, namun terus kupaksa, sampai akhirnya agak terbatuk-batuk ia telan nyaris seluruh batang kontolku. Aku tak begitu bertindak memaksa khawatir ia akan muntah-muntah lagi. Yang penting sensasi bahwa aku menguasai dirinya menjadi kepuasan tersendiri. Ku putar tubuhnya hingga membelakangiku, ku susun dua tumpuk bantal di bawah perutnya, sebelum kusetubuhi dari belakang aku melakukan ritual menjilati setiap mili memeknya, membuat ibu kembali merinding dan merintih-rintih. Lalu…,’’jlebb’’…kembali batang kontolku tenggelam dalam liang senggama ibunda isteriku itu. Kali ini ibu tak malu-malu mengeluarkan suara rintihan nikmat. Pantat molek itu mulai berguncang-guncang akibat hentakanku. Tanganku segera meraih gunung kembar yang kini bergantung terayun-ayun.”ouuh…Den…oohhh”, rintih ibu menemani geramanku…tubuh kami kembali berkilauan basah oleh keringat. Ronde kedua ini lebih lama berlangsung…ibu menghujamkan wajahnya di bantal untuk meredam suara pekikan ketika orgasmenya tiba..bagaimana mungkin wanita sehangat ini bisa ditinggal ayah mertua, pikirku. Capek melakukan doggi style, kembali ku telentangkan tubuh bugil ibu mertuaku itu, pantatnya kembali kuganjal bantal sehingga pinggulnya mendongak, ku pentangkan lebar-lebar selangkangan ibu, dan kulipat lututnya hingga nyaris menyentuh pundaknya…lalu satu tusukan teramat dalam kembali dialami lubang kemaluan kembali mendesah-desah menerima setiap hentakan demi hentakan senjata biologis milikku…dan sekali lagi ia mengalami orgasme dahsyat yang tak dirasakannya bertahun-tahun, mengundang datangnya orgasmeku pula yang sekali lagi menyirami mulut rahimnya dengan cairan benih potensial. Pagi itu hubungan menantu-mertua telah melanggar batas menjadi hubungan terlarang sepasang kekasih yang masing-masing masih terikat perkawinan. Dan persetubuhan itu kembali terjadi hingga aku mengalami 5 kali orgasme,,,ibu mertua? Tak terhitung malah. Menjelang siang aku segera beranjak keluar kamar yang kini beraroma seks itu. Bagaimanapun aku harus mencari nafkah, dari situlah aku bisa membeli susu untuk anakku dan kebutuhan sehari-hari yang biasanya kuserahkan pada ibu menjelang pukul sembilan aku baru pulang. Ibu tengah menonton TV menemani anakku yang tengah bermain. Seutas senyum kecilnya menyambut kehadiranku. “Ibu udah sehat? ini bu, buat belanja besok”, ujarku seraya menyerahkan 3 lembar uang 10 ribuan. “Makasih…ibu udah mendingan kok, Deni makan dulu sana, ibu hanya beli makanan jadi tadi siang, belum masak”, jawabnya. Benar kata orang, sex bisa jadi obat, pikirku seraya menyambar handuk digantungan dan menuju kamar mandi. Usai makan malam, aku bangkit ke ruang tengah. Ibu masih berbaring di depan TV, sementara anakku sudah tertidur di sampingnya. Ku angkat dia dan kubaringkan di ranjang ibu. Di luar kamar, tanpa basa basi lagi kutindih tubuh ibu, ku lolosi daster lusuhnya melewati kepalanya, lalu beha dan celana dalamnya. Bibir kami segera berpagutan. Kuremasi setiap bagian indah lekuk tubuhnya, payudara, pinggul, pantat…sambil mencolokan dua jemariku di vaginanya yang tanpa disuruh sudah diselaputi cairan pelumas. “oohh…Den….aahh…”, bagai kepedasan ibu terus mendesah. “Isap kontolku bu”, ujarku sambil menariknya agar berlutut dihadapanku..sulit dibayangkan kata-kata tak pantas itu bisa keluar dari mulutku terhadap seseorang yang seharusnya aku hormati .”mmmf …mmmf..mff”, ibu mulai mahir melakukan hisapan, jilatan bak pelacur merasakan hangatnya rongga mulut ibu, ganti aku mengunyah, menghisap dan menusuk-nusuk lubang memeknya dengan lidah dan jemariku, pinggul ibu bergerak kesana – kemari dan mulutnya mulai ribut merintih, khawatir didengar tetangga, segera kuarahkan batang penisku ke mulutnya, dalam posisi 69 kami saling mengecap kemaluan masing-masing hingga kami puas. Di atas tikar lusuh itu, ibu dengan sadar membuka lebar-lebar pahanya, membuat celah vaginanya merekah merah dan basah. Dan ia meringis ketika kembali benda terlarang memasuki tubuhnya. “oooh…Den,”…”ibu…ahhhss”, sekian menit kemudian di antara rintihannya, ibu berkata..”den…pindah yuk, punggung ibu sakit kalau di sini”, pintanya, aku mengangguk dan mencabut kemaluanku. Ibu beranjak berdiri hendak berjalan menuju kamar, namun pinggangnya segera kutangkap. Dari belakang kembali kusetubuhi ibu, kutangkap sepasang payudaranya yang montok itu. Sambil kusetubuhi, ku dorong tubuhnya agar berjalan, hingga kami tiba di dalam kamar. Ibu merangkak naik ke atas ranjang tanpa batang kontolku meninggalkan jepitan liang senggamanya. Kembali ku hentak-hentakan pinggulku hingga ranjang tua itu berderit-derit, membuat apa yang diatasnya berguncang-guncang tak terkecuali anakku yang tengah tidur dengan menggigit jari mencegah rintihan keras keluar dari mulutnya. Beberapa lama kemudian kembali kutelentangkan tubuhnya, dengan otomatis ia membuka pahanya…dan “blesss”,,,batang penisku kembali amblas ditelan rongga sempit,basah dan hangat milik ibu. Ku rentangkan tangannya ke atas, kuhirup dalam-dalam aroma asli tubuh wanita setengah baya yang masih sangat sensual itu. Keringat kami kembali saling melebur menjadi satu, deritan ranjang tua itu mengiringi irama bergesekannya dua kelamin dan suara jangkrik di luar. Dan Ibu menyembunyikan wajahnya di dadaku ketika ia dilanda kepuasan bathin hubungan terlarang malam itu. Dan berkali-kali pula cairan spermaku mengisi penuh rongga memek ibu. Malam itu ibu mengalami lebih 6 kali orgasme, sedangkan aku sampai empat kali hingga spermaku nyaris berikutnya hubungan haram itu terus berlangsung. Dan membawa konsekuensi tumbuhnya benih yang kutanam. Untunglah sebelum berkembang leih besar, bapak mertua datang. Walau membuatku begitu cemburu ketika suatu malam ranjang tua kamar ibu kembali berderit, bukan karena ulahku, tapi bapak mertua. Hingga sebulan kemudian bapak mertua kembali dapat obyekan dan meyakini istrinya hamil karena dirinya. Setelah ia pergi, bisa ditebak. Kembali ranjang tua itu berderit-derit akibat persetubuhan aku dan ibu, sampai menjelang anak kami lahir.
MEJAQQ - Ibu mertuaku umurnya belum terlalu tua baru sekitar 45th. Dulunya baru umur 18 tahun dia sudah kimpoi. Ibu mertuaku bentuk tubuhnya biasa-biasa saja malah boleh dikatakan langsing dan singset seperti perawan. Tak heran sebab hingga kini ia masih mengkonsumsi jamu untuk supaya selalu awet muda dan cerita ketika istriku baru melahirkan anak pertama dan aku harus puasa selama sebulan lebih. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana pusingnya aku. Hingga suatu saat aku mengantar Ibu mertuaku pulang dari menengok cucu pertamanya itu. Aku biasa mengantarnya dengan motorku. Namun kali itu turun hujan ditengah perjalanan. Karena sudah basah kuyup dan hari sudah menjelang tengah malam aku paksakan untuk menerobos hujan yang deras MejaQQSetiba dirumah aku ingin segera membersihkan badan lalu menghangatkan badan. Di rumah itu hanya ada aku dan Ibu mertuaku karena kakak iparku tinggal ditempat lain. Sedangkan adik iparku yang biasa menemani Ibu mertuaku dirumah itu untuk sementara tinggal dirumahku untuk menjaga istriku.“Kamu mandi aja deh sana, Her” Kata Ibu mertuaku menyuruhku mandi“Ah . . nggak usah . . Ibu duluan deh” Kataku menolak dan menyuruhnya agar lebih dulu“Udah . . Ibu disini aja” Kata Ibu mertuaku yang memilih tempat cuci baju dan cuci piring diluar kamar mandi . Karena disitu juga ada air keran.“Yah . . udah deh” Kataku sambil mendahuluinya masuk ke kamar waktu itu agak remang-remang karena lampu penerangannya hanya lampu bohlam 5 watt. Aku iseng ingin tahu bentuk tubuh Ibu mertuaku yang sebenarnya ketika ia telanjang bulat. Maka aku singkapkan sedikit pintu kamar mandi dan menontonnya melepas satu per satu bajunya yang sudah basah kuyup karena kehujanan. Dia tidak tahu aku menontonnya karena dia perhatikan ia mencopot kaus T-shirt-nya ke atas melewati bahu dan lehernya. Lalu BH-nya dengan mencongkel sedikit pengaitnya lalu ia menarik tali BH-nya dan BH itupun terlepas. Adegan yang paling syur ialah ketika ia membuka celana panjang jeansnya . Sret . . celana jeans ketat itu ditariknya ke bawah sekaligus dengan celana dalamnya. Jreng . .! Aku lihat kedua buah pantatnya yang kencang dan montok itu yang sudah tak merasakan sex selama satu bulan lebih dan lagi dihadapkan dengan pemandangan seperti itu. Aku nekat untuk mendekatinya dan aku peluk dia dari belakang.“Eh . . Her . . ini apa-apaan . . Her” hardik Ibu mertuaku.“Bu . . tolongin saya dong , Bu” rayuku“Ih . . apaan sih . .?!” Katanya lagi“Bu , udah dua bulan ini saya nggak dapet dari Dewi . . tolong dong , Bu” bujukku lagi“Tapi aku inikan ibumu” Kata Ibu mertuaku“Bu . . tolong , Bu . . please banget” rayuku sambil tanganku mulai meremas-remas buah dadanya yang ukurannya sekitar 34b sambil jariku memelintir putting susunya. bibir dan lidahku menjilati tengkuk lehernya. Tanganku yang satu lagi memainkan klentit-nya dengan memelintir daging kecil itu dengan jariku. Batang Kontolku aku tekan dilubang pantatnya tapi tidak aku masukkan. Ibu mertuaku mulai bereaksi. Tangannya yang tadi berusaha meronta dan menahanku kini sudah mengendo. Dia membiarkanku memulai dan memainkan ini semua. Nafasnya memburu dan mulai mendesah-desah.“Dikamar aja yuk , Bu” bisikkuAku papah Ibu mertuaku menuju kamarnya. Aku baringkan dia tempat tidur. Aku buka kedua kakinya lebar-lebar dan sepertinya Ibu mertuaku sudah siap dengan batang Kontolku. Tapi aku belum mau memulai semua itu.“Tenang aja dulu , Bu . Rileks aja , Ok?” mengarahkan mukaku ke liang memeknya dan aku mulai dengan sedikit jilatan dengan ujung lidahku pada klentitnya .“Ough . . sshhtt . . ough . . hmpf . . hh . . ooghh” Ibu mertuaku mendesah dan mengerang menahan kenikmatan jilatan sepertinya belum pernah merasakan oral sex dan baru kali ini saja ia merasakannya . Terlihat reaksi seperti kaget dengan kenikmatan yang satu ini.“Enak kan , Bu . .?” Kataku“Hmh . . kamu . . sshtt . . kamu . . koq . . gak jijik . . sih , Her?” Tanyanya ditengah-tengah desah dan deru nafasnya .“Enggak , Bu . . enak koq . . gimana enak gak?”“Hmh . . iyahh . . aduh . . sshhtt . . eenak . . banget . . Her . . sshhtt” jawab Ibu mertuaku sambil terus merintih dan mendesah .“Itu baru awalnya , Bu” ini aku kulum-kulum klentitnya dengan bibirku dan memainkan klentit itu dengan lidahku. Aku lihat sekujur tubuh Ibu mertuaku seperti tersetrum dan mengejang. Ia lebih mengangkat lagi pinggulnya ketika aku hisap dalam-dalam AGEN JUDI POKER DOMINOQQ BANDARQ ONLINE TERBESAR DI ASIATak sampai disitu aku terobos liang memeknya dengan ujung lidahku dan aku masukkan lidahku dalam-dalam ke liang memeknya itu lalu aku mainkan liukkan lidahku didalam liang memeknya. Seiring dengan liukanku pinggul Ibu mertuaku ikut juga bergoyang.“Ough . . sshhtt . . ough . . sshhtt . . oughh . . hmh . . ough . . shhtt . . ough . . hmh . . oufghh . . sshhtt” suara itu terus keluar dari mulut Ibu mertuaku menikmati kenikmatan oral sex yang aku sudahi oral sex ku lalu aku bangun dan berlutut dihadapan liang memeknya. Baru aku arahkan batang Kontolku ke liang memeknya tiba-tiba tangan halus Ibu mertuaku memegang batang Kontolku dan meremas-remasnya.“Auw . . diapain , Bu . .?” Tanyaku“Enggak . . ini supaya bisa lebih tahan lama” Kata Ibuku sambil mengurut batang geli-geli nikmat bercamput sakit sedikit. Sepertinya hanya diremas-remas saja tetapi tidak ternyata ujung-ujung jarinya mengurut urat-urat yang ada dibatang Kontol untuk memperlancar aliran darah sehingga bisa lebih tegang dan kencang dan tahan lama.“Guedhe . . juga . . punya kamu , Her” Kata Ibu mertuaku sambil terus mengurut batang Kontolku.“Iya dong , Bu” ini kedua tangan Ibu mertuaku beraksi mengurut batang Kontolku. Tangan yang satunya lagi mengurut-urut buah pelirku dan yang satu lagi seperti mengocok namun tidak terlalu ditekan dengan jari jempol dan telunjuknya. Tak lama kemudian“Egh . . yah .sudah . . pelan-pelan . . yah sayang” Kata Ibu mertuaku sambil menyudahi pijatan-pijatan kecilnya itu dan mewanti-wantiku supaya tidak terlalu terburu-buru menerobos liang angkat kedua kaki Ibu mertuaku dan aku letakkan dikedua bahuku sambil mencoba menerobos liang memeknya dengan batang Kontolku yang sedari tadi sudah keras dan kencang.“Ouh . . hgh . . ogh . . pelan-pelan , Her” Kata Ibu mertuaku ditengah-tengah deru nafasnya.“Iya , Bu . . sayang . . egh . . aku pelan-pelan koq” Kataku sambil perlahan-lahan mendorong Kontolku masuk ke liang memeknya.“Ih . . punya kamu guedhe banget , sayang . . ini sih . . gak normal”Katanya“Kan tadi udah diurut , Bu” teruskan aksiku penetrasiku menerobos liang memeknya yang kering. Aku tidak merasa istimewa dengan batang Kontolku yang panjangnya hanya 15cm dengan diameter sekitar 3 cm. Dengan sedikit usaha . . tiba-tiba . . SLEB-SLEB-BLESSS! Batang Kontolku sudah masuk semua dengan perkasanya kedalam liang memek Ibu mertuaku.“Ough . . egh . . iya . . sshh . . pelan-pelan aja yah , sayang” Kata Ibu mertuaku yang mewantiku supaya aku tidak terlalu mulai meliukkan pinggulku sambil naik turun dan pinggul Ibu mertuaku berputar-putar seperti penyanyi dang-dut.“Ough . . gilaa , Bu . . asyik . . banget . .!” Kataku sambil merasakan nikmatnya batang Kontolku diputar oleh pinggulnya.“Ough . . sshtt . . egh . . sshh . . hmh . . ffhh . . sshhtt . . ough . . sshhtt . . oughh” Ibu mertuaku tidak menjawab hanya memejamkan mata sambil mulutnya terus mendesah dan merintih menikmati kenikmatan sekitar 30 menit aku sudah bosan dengan posisi ini dan ingin berganti posisi. Ketika itu kami masih dalam posisi konvensional . Aku mau menawarkan variasi lain pada Ibu mertuaku.“Eh . . Ibu yang di atas deh” Kataku.“Kenapa , sayang . . kamu capek . . yah . .?” Tanyanya.“Gak” jawabku singkat.“Mo keluar yah . . hi . . hi . . hi . .?” Godanya sambil mencubit pantatku.“Gak . . ih . . aku gak bakalan keluar duluan deh” Kataku sesumbar.“Awas . . yah . . kalo keluar duluan” Goda Ibu mertuaku sambil meremas-remas buah pantatku “Enggak . . deh . . Ibu yang bakalan kalah sama aku”Kataku sombong sambil balas mencubit buah dadanya“Auw . . hi . . hi . . hi” Ibu mertuaku memekik kecil sambil tertawa kecil yang membuatku semakin berguling ke samping kini Ibu mertuaku sudah berada di atas tubuhku. Sambil menyesuaikan posisi sebentar ia lalu duduk di atas pinggulku. Aku bisa melihat keindahan tubuhnya perutnya yang rata dan ramping . Tak ada seonggok lemakpun yang menumpuk dadanya juga masih kencang dengan putting susu yang mengacung ke atas menantangku. Aku juga duduk dan meraih putting susu itu lalu ku jilat dan ku kulum. Ibu mertuaku mendorongku dan menyuruhku tetap berbaring seolah-olah kali ini cukup ia yang pegan kendali. Ibu mertuaku kembali meliuk-liukkan pinggulnya memutar-mutar seperti Inul Daratista.“Egh . . sshhtt . . ough . . sshhtt . . ough . . egh . . hmf” desah Ibu mertuaku.“Gila , Bu . . enak banget . .!”“Ough . . sshhtt . . ough . . sshtt . . ough” Ibu mertuaku mendesah dan merintih sambil terus meliuk-liukkan pinggulnya memainkan batang Kontolku yang berada didalam liang meremas buah dadanya yang tak terlalu besar tapi pas dengan telapak tangan. Tanganku yang satunya lagi meremas buah pantatnya. Batang Kontolku yang kencang dan keras terasa lebih keras dan kencang lagi . Ini berkat pijatan dari Ibu mertuaku tadi itu . Bisa dibayangkan jika tidak aku sudah lama orgasme dari tadi.“Ough . . sshtt . . emh . . enagh . . egh . . sshhtt . . ough . . iyaahh . . eeghh . . enak . . ough” liukan pinggul Ibu mertuaku yang tadinya teratur kini berubah semakin liar naik turun maju mundur tak karuan .“Ough . . iiyyaahh . . egghh . . eghmmhhff . . sshhtt . . ough . . aku udah mo nyampe” Kata Ibu mertuaku.“Bu . . aku juga pengen , Bu . . egh” Kataku sambil ikut menggoyang naik turun pinggulku.“Egh . . iyah . . bagusshh . . sayangg . . ough . . sshhtt . . ough . . sshtt . . ough” Ibu mertuaku merespons gerakanku untuk membantunya mempercepat goyanganku karena seperti ada yang mendesak dibatang Kontolku untuk keluar juga .“Hmfh . . terusshh . . iyah . . ough . . oughh . . AAAUGHH . . OUGH . . OUGH . . OUGH” Ibu mertuaku telah sampai pada batang Kontolku terasa seperti ada cairan hangat mengucur deras membasahi batang Kontolku. Ibu mertuaku menggelepar dan diakhiri dengan menggelinjang liar dan nafasnya yang tersengal. Ibu mertuaku telah berhenti melakukan liukan pinggulnya. Hanya denyutan-denyutan kencang didalam liang BandarQ OnlineAku merasakan denyutan-denyutan itu seperti menyedot-nyedot batang Kontolku Dan . . CROT . . CROTT . . CROTTT . .! muncrat semua air maniku diliang memek Ibu mertuaku.“Bu , kerasa nggak air mani saya muncratnya . .?” Tanyaku“Eh . . iya , Heri sayang . . Ibu udah lama pengen beginian” Kata Ibu mertuaku“Iya . . sekarang kqn udah , Bu” Kataku sambil mengecup keningnya“Oh . . kamu . . hebat banget deh , Her” Kata Ibu mertuaku sambil membelai-belai rambutku.“Itu semua kan karena Ibu” Kataku memujinya“Ih . . bisa aja . . kamu” sahut Ibu mertuaku sambil mencubit mertuaku masih di atas tubuhku ketika HP-ku berbunyi ternyata dari istriku yang menyuruhku supaya menginap saja dirumah Ibu mertuaku. Setelah telepon di tutup aku memekik kegirangan. Setelah itu kami melakukan pemanasan lagi dan melakukannya sepanjang malam hingga menjelang subuh kami sama-sama kelelahan dan sudah berapa kali kami bersenggama dalam berbagai posisi. Pagi harinya kami masih melakukannya lagi dikamar mandi untuk yang terakhir lalu setelah itu aku sarapan dan pulang.
x Ibu Mertua Kekasihku Bersama Dengan Emak Mertua AkuKisah ini berlaku pada diriku bermula 2 tahun dahulu dan telah berterusan sehingga tidak minta ianya berlaku kerana sebelum ini aku memang hidup bahagia di samping isteri aku yang cantik dengan 7 orang apa-apa kekurangan pada isteri bilik tidurpun isteri aku masih dapat melakukan apa sahaja asalkan kami puas ketika Mertua aku telah meninggal dunia pada tahun 1991,meninggalkan Emak Mertua aku dengan 3 orang anak yang masih menuntut di sekolah isteri kesemuanya ada 14 orang,begitu ramai tetapi semuanya sudah membawa diri masing-masing,ada yang telah berkahwin dan ada yang berhijrah ke bandar kerana tinggal 3 orang yang masih kecil menemani Emak Mertua aku di kematian bapanya,isteri aku semakin rapat dengan Emaknya dan aku bertindak membantu menyara adik-adik ipar aku setiap bulan,kami akan balik ke kampung yang jaraknya hanya 24km dari bandar tempat tinggal kami untuk menjenguk-jenguk setiap musim cuti,biasanya aku akan menyewa sebuah van untuk membawa keluarga aku dan Emak Mertua aku serta adik-adik ipar aku bercuti ke tempat-tempat peranginan dan 2 tahun lalu kami kesemua 13 orang mengambil keputusan untuk bercuti secara pakej ke Pulau Tioman melalui Mersing, mengambil pakej 4 hari 3 malam dan akan tinggal di chalet Kampong tiba di Mersing pada jam 930 pagi dan terus menuju ke pengkalan kaunter tiket,aku menemui agen percutian kami dan dimaklumkan bahawa bot ke Pulau Tioman,Pahang akan bertolak tepat jam 1100 diarah supaya berada di dermaga selewat-lewatnya jam 1045 menunggu waktu yang ditetapkan,kami menuju ke restoran berhampiran dan makan perasan,sejak dalam bas menuju ke Mersing,Emak Mertua aku kurang bercakap dan semasa kami sedang makan,dia hanya makan beberapa suap sahaja,itupun hanya nasi sahaja tanpa lauk,lalu aku menegurnya.“Mak,dari tadi saya tengok Mak senyap saja..!!!Mak tak sihat ker...???”tanya aku tanpa sebarang aku jugak mencelah.“Makan la,Mak...!!!Mak sakit ker...???”soalan yang sama ditujukan kepada Emak Mertua aku.“Mak tak pernah naik kapal,Mak rasa gerun dan takut mabuk...!!!”Emak Mertua aku tu menjawab dengan suara yang jawapannya,aku faham bahawa Emak Mertua aku tu tidak begitu seronok untuk naik cuba menenangkan perasaan Emak Mertua aku tu dengan memberitahunya.“Mak jangan takut,nanti Mak duduk sebelah dalam perut bot...!!!Kalau Mak duduk di tengah-tengah,Mak tak nampak laut jadi rasanya macam naik bas sahaja...!!!”aku berkata kepada Emak Mertua aku tu.“Betul cakap Abang Arshad tu,Mak...!!!Mak duduk di tengah-tengah dengan saya dan budak-budak ni semua...!!!Jangan tengok laut...!!!”isteri aku penjelasan itu,baru aku lihat Emak Mertua aku tu tersenyum dan menceduk lauk serta terus makan dengan masa untuk bertolak,kami menuju ke dan adik-adik ipar aku sudah tidak sabar-sabar menunggu untuk menaiki kami,ramai pelancong-pelancong dari dalam dan luar negara sedang bersedia untuk menaiki semboyan dibunyikan sahaja,kami semua bergegas-gegas menaiki bot yang bentuknya seperti jet aku mengajak Emak Mertua aku tu naik,dia minta supaya naik kemudian akur dan menyuruh isteri dan anak-anak serta adik-adik ipar aku naik keadaan lenggang aku memimpin Emak Mertua aku tu untuk naik bot tetapi apabila sahaja hendak melangkah,bot mula berayun mengikut ombak,Emak Mertua aku tu berpatah balik kerana ketakutan.“Kenapa,Mak...???Jom kita naik...!!!”aku bertanya dan berkata kepada Emak Mertua aku Emak Mertua aku bagai faham perasaannya dan tanpa disedari aku menceduk bontot tonggeknya dan mengangkatnya naik ke Mertua aku tu terus memaut leher aku dan mukanya disembamkan ke leher di atas bot,aku cuba menurunkannya tetapi pautannya semakin kuat bagai tidak mahu melepaskan aku kerana terus membawanya ke perut bot dan meletaknya di atas dan anak-anak aku ketawa geli hati melihat telatah Emak Mertua aku itu baru dia melepaskan pautannya di leher itu tanpa disengajakan,apabila aku melepaskan tangan Emak Mertua aku tu dari leher aku,Emak Mertua aku tu menolehkan kepalanya dan bibir kami bersentuhan dan ketika itu,seperti masa terhenti,mata kami bertemu dan aku dapat merasakan kehangatan nafasnya membelai wajah aku.“Opppsss...!!!Maafkan saya,Mak...!!!”aku hanya sempat berkata sebegitu dan Emak Mertua aku tu terus tertunduk kemudiannya bangun menegakkan badan dan mencuri pandang pada isteri dan anak-anak aku jika mereka terlihat apa yang berlaku tetapi mereka asyik mentertawakan kami setengah jam di tengah lautan,tiada apa-apa yang bergerak keluar dari perut bot dan berdiri di belakang untuk menikmati pemandangan di sekeliling yang kelihatan dari jauh,pulau-pulau bertaburan di tengah aku terdengar nama aku diteriak dan aku bergegas masuk ke Mertua aku tu sedang tunduk ke bawah dan di tangannya memegang beg bertanyakan kepada isteri aku akan apa yang telah memberitahu bahawa Emak Mertua aku tu mabuk laut dan mengeluarkan minyak angin Cap Kapak dari poket aku dan mengosok-gosok belakang leher Emak Mertua aku Mertua aku tu muntah hingga keluar muntah hijau tetapi apabila aku menggosokkan minyak angin di lehernya,dia mendongak dan menarik nafas pun terus duduk di sebelahnya sambil memicit-micit pangkal Mertua aku tu kelihatan semakin melentukkan kepalanya di bahu aku dengan matanya terpejam.“Biar la Mak tidur,Bang...!!!Kalau tidak nanti dia muntah lagi...!!!”kata isteri aku tu kepada isteri aku berkata kepada aku,Emak Mertua aku tu kemudiannya terus sendawa mengeluarkan angin dari perutnya.“Abang peluk Mak jangan sampai dia jatuh dari tempat duduknya...!!!”pinta isteri apa-apa perasaan aku memeluk Emak Mertua aku tu dan memaut kami bergesel-gesel mengikut alunan ombak yang menonggak arus menoleh untuk melihat isteri,anak-anak dan adik ipar semua terlelap diayun kepala Emak Mertua aku tu melurut ke dada aku,aku menolaknya semula ke bahu bot menghempas dengan Mertua aku tu seakan terperanjat dan tangan kirinya memaut kuat ke leher semakin erat di pangkal leher aku sehingga aku dapat merasakan kehangatan dengusan dihimpitkan ke dada tersipu-sipu malu tetapi tidak dapat berbuat menjeling isteri aku lagi tetapi dia telah terlelap lena di bot melawan ombak membuatkan bot tidur semakin Emak Mertua aku tu semakin perlahan,menandakan dia juga mungkin lagi bot kiri Emak Mertua aku tu yang sedang memaut leher aku terlepas perlahan-lahan ke dada aku,mengelungsur ke perut dan terhenti betul-betul di celah peha tertegun dan perlahan-lahan mengalihkan aku mengalihkannya,diletakkannya kembali di celah peha aku tetapi kali ini tangannya mengosok-gosok betul-betul di batang kote kote aku ini pulak pantang tersentuh begitu,cepatlah ia menggosok-gosok,mukanya semakin hampir ke leher aku dan hidungnya tidak tahu sama ada ia disengajakan ataupun Emak Mertua aku tu sedang semboyan kuat berbunyi dan bot semakin penumpang terkejut dan melihat Mertua aku tu jugak terjaga dan cepat-cepat mengalihkan buat-buat tak tahu apa-apa tetapi aku sedar,melalui kerlingan mata aku,aku lihat,Emak Mertua aku tu asyik memandang jerit kuat.“Dah sampai...!!!”dan semua anak-anak aku terjaga serta isteri dan adik-adik ipar bot sampai di dermaga,kami semua beratur untuk atas jeti,ada sambutan oleh pihak pengurusan chalet terhadap ketibaan aku semua gembira dan melompat mula-mula naik bot,kini aku harus mendukung Emak Mertua aku tu naik ke atas jeti berlaku dan adik-adik ipar aku terhoyong-hayang berjalan sambil ketawa.“Ayah,jeti ini takut...!!!”kata anak yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak melihat telatah mereka yang mabuk darat setelah 2 jam di jua tak terlepas,apabila aku turut terhoyong-hayang bersama sambil mendukung Emak Mertua aku disambut dengan meriah sekali dengan senyuman dan kalungan masih lagi mendukung Emak Mertua aku tu sehingga ke dan adik-adik ipar aku terus mengikuti penyambut tetamu ke pejabat kemudiannya terus menuju ke sebuah kerusi dan cuba menurunkan Emak Mertua aku aku meletakkannya di kerusi,tangannya masih memaut leher ini bagai disengajakan,apabila dia melepaskan tangannya,hidung dan mulutnya mengesel mulut buat tak perasan dan melepaskannya duduk.“Mak tunggu sini dulu,Arshad nak ke kaunter uruskan kunci chalet...!!!”jelas aku kepada Emak Mertua aku Mertua aku tu tidak menjawab apa-apa,tetapi mata layunya merenung mata kami selesai masuk ke chalet masing-masing,aku bersama isteri aku dan 2 orang anak kecil yang besar berkongsi sebuah chalet 3 bilik bersama seorang adik ipar Mertua aku tu berkongsi chalet 2 bilik bersama 2 orang adik ipar dihidangkan minuman petang di restoran jugak diberikan penerangan mengenai pakej percutian ini kami dibenarkan bersendirian bersiar-siar di pantai dan kawasan-kawasan Kampong Salang ini ada beberapa buah gerai menjual cenderahati,gerai-gerai makan,gerai-gerai karaoke dan menyewa alatan menghabiskan masa bersiar-siar dan bermandian di pantai sehingga lewat itu kami kembali ke chalet masing-masing dan bersedia untuk makan itu,Emak Mertua aku tu hanya duduk di chalet dan tidak mengikut kembaraan menghabiskan masa dengan tidur dan berehat untuk menghilangkan rasa mabuk 800 malam,kami semua bergerak ke restoran untuk hidangan makan Mertua aku tu duduk di sebelah aku dan isteri masih tidak banyak makan bersama-sama dan selepas makan,aku lihat anak-anak dan adik ipar aku telah berkenalan dengan ramai rakan sebaya mereka dan bermain bersama-sama di kawasan perkampungan Mertua aku tu terus bergerak ke mahu dan isteri aku bersiar-siar di tepi pantai yang hanya diterangi oleh cahaya lampu pantai yang malap dan cahaya bulan di mencari suatu sudut yang sunyi dan berasmara seperti kami mula-mula baru kahwin kami terasa ingin bersetubuh,kami kembali ke chalet dan terus masuk ke kerana anak-anak masih belum balik,kami bersetubuh sepuas-puasnya di dalam tak tahu kenapa malam ini aku tidak boleh terpancut sedangkan isteri aku telah 3 kali peristiwa siang tadi bersama Emak Mertua aku tu mengganggu perasaan bagaimanapun,isteri aku puas dan kerana kepenatan terus adalah biasa,setiap kali selepas bersama,dia akan tertidur sehingga bom meletup pun dia tidak akan sedar kerana dia akan tetap terbangun pagi,seawal jam 500 pagi tiap-tiap kerana angin laut begitu hangat,apalagi setelah bertarung selama satu jam aku berasa rimas dan keluar merayau-rayau seorang duduk di gerai karaoke melihat gelagat orang ramai menyanyi dan bergembira sehingga tidak sedar waktu telah jam 100 bergerak untuk pulang ke di chalet,lampu semua telah telah terlena tetapi mata aku masih belum duduk di tangga chalet menghadap ke chalet Emak Mertua aku mengenangkan peristiwa yang berlaku antara aku dan Emak Mertua aku tu pada siang disengajakan atau belum pernah bernafsu terhadap perempuan lain selain isteri aku yang cantik dan bertubuh mekar,tetapi hari ini aku terangsang terhadap Emak Mertua aku tu dalam usia 54 tahun,Emak Mertua aku tu masih nampak terlalu kurus tetapi teteknya terasa masih utuh dan keras ketika menghimpit dada pinggangnya masih cuba melawan perasaan aku tetapi nafsu syaitan masih menggoda aku.“Adakah dia akan menyerah dengan mudah kalau aku menggodanya...???”dalam benak aku bertanya sendiri.“Nak buat ker atau tidak...???”perasaan yakin dan tidak yakin berkecamuk dalam benak aku berkeputusan untuk mencuba dan aku melangkahkan kaki aku ke chalet Emak Mertua aku pertengahan perjalanan aku,aku tersentak apabila tiba-tiba Emak Mertua aku tu berdiri di dalam kegelapan malam di hadapan aku.“Eh...!!!Mak nak ke mana...???”tanya aku kepada Emak Mertua aku tu dengan nada terperanjat.“Mak tak boleh tidur kerana dah puas tidur siang tadi la...!!!Arshad nak pergi ke mana tu...???”Emak Mertua aku tu kemudiannya berkata dan bertanyakan kepada aku pulak.“Arshad pun tak dapat nak lelap mata,Mak...!!!Kan sejuk ini Mak,kenapa tak pakai baju sejuk...???”aku meneruskan kata-kata aku kepada Emak Mertua aku tu.“Tak la Arshad,angin malam ni hangat sangat...!!!Kalau Arshad belum nak tidur,jom temankan Mak jalan-jalan kat pantai...!!!”pinta Emak Mertua aku tu.“Baiklah,Mak...!!!Jom la,Mak...!!!”jawab aku kepada Emak Mertua aku ini telah melenyapkan segala yang aku rancangkan tak tahu nak buat apabila berhadapan dengan Emak Mertua aku tu begini lalu aku cuba turutkan kehendak Emak Mertua aku tu sebagai Emak Mertua bersiar-siar dengan mengikut langkah berjalan seiringan dengan jarak selengan sambil bercakap bila perlu sedar,kami telah berjalan jauh dari tempat penginapan lagi lampu pantai,hanya cahaya bulan menerangi laluan di kawasan berbatu,kami memanjat ke atas dan berdiri menikmati angin Mertua aku tu terus berdiri di atas batu sambil aku duduk lebih kurang 2 meter di bulan yang memancar ke tubuh Emak Mertua aku tu menembusi kain pelekat dan baju kebaya Kedahnya sehingga menampakkan bentuk tubuh yang serta merta merangsang keinginan nafsu seks aku.“Dia menggoda lagi ker...???”kata hati dalam kesunyian malam itu,aku terdengar suara-suara dari dalam semak-semak di belakang Mertua aku tu jugak terperasan lalu bergerak menuju ke arah aku.“Bunyi apa tu...???Ada orang kat sini la,Arshad...!!!”Emak Mertua aku tu berkata kepada aku sambil terus bergerak menuju ke arah datangnya suara menuruti di terhenti apabila terlihat bergerak rapat ke arahnya dan amat terperanjat sekali apabila melihat bayang-bayang 2 orang manusia sedang enak bersetubuh di hadapan pulak terdengar di sebelah kanan dan kiri semua sedang memadu asmara sambil melempiaskan keinginan nafsu seks nafsu seks aku terus terangsang tetapi aku Emak Mertua aku tu bersuara membisik kepada aku.“Diaorang semua tengah main la,Arshad...!!!”Emak Mertua aku tu bersuara membisik kepada aku.“A’ah...!!!”aku hanya mampu menjawab sebegitu dan tak tahu nak buat leher aku dipaut dan ditarik ke Mertua aku tu telah terbaring dengan tangannya memaut leher aku.“Jangan cakap apa-apa,kita buat macam diaorang...!!!”bisik Emak Mertua aku tu kepada tersentak sebentar tetapi aku tahu inilah peluang yang aku inginkan sejak tadi,kenapa pulak aku harus merebahkan tubuh aku ke atas tubuh Emak Mertua aku tu dan terus mengucup dan gigi kami berlaga-laga dengan ingin menikmati kedua-dua tetek Emak Mertua aku tu lalu aku seluk ke dalam bajunya dan meramas-ramas kedua-dua tetek Emak Mertua aku mengerang sambil tangan kanannya menyentap-yentap seluar mengerti kehendaknya lalu bangun dan menanggalkan seluar seluar dalam,batang kote aku terus menerjah keluar sambil Emak Mertua aku tu menyelak kainnya ke atas menampakkan lubang cipapnya yang masih lebat berbulu diterangi cahaya Mertua aku tu kemudiannya terus mengangkat kelengkangnya dan aku terus rebah lalu menyucukkan batang kote aku ke mulut lubang lengah-lengah Emak Mertua aku tu pun terus menolak bontot tonggeknya ke atas dan lubang cipapnya terus menelan batang kote aku sehingga ke pangkal buat kali pertama pada hari tersebut kali pertama secara keseluruhannya.Kakinya memaut punggung aku bagai tidak mahu melepaskan batang kote berdua terdiam sebentar dan lubang cipap Emak Mertua aku tu terus mengemut-ngemut batang kote Emak Mertua aku tu semakin kuat dan tiba-tiba sahaja dia mengerang dan terus macam tak pun aku bermula,Emak Mertua aku tu sudah ke kaki Emak Mertua aku tu dilepaskan dan batang kote aku yang masih keras terbenam di dalam lubang kata-kata yang keluar dari mulut Emak Mertua aku kegelapan malam itu,Emak Mertua aku tu terus menarik tubuh aku rapat ke tubuhnya,mengucup aku dan kemudian menolak aku baring di sebelahnya di atas rumput-rumput yang dibasahi embun bercampur perahan peluh kami beberapa ketika,masih tiada kata-kata hanya sekali-kali Emak Mertua aku tu mengucup-ngucup dan menjilat dada tahu apa hendak aku tangan aku berbunyi dan aku dekatkan ke mata aku menunjukkan jam 300 500 pagi,pasti isteri aku akan harus aku katakan jika dia dapati aku dan Emaknya tiada di katil dia mengetahui apa yang sedang aku fikirkan,tiba-tiba Emak Mertua aku tu bersuara sambil menarik-narik batang kote aku yang mencodak ke langit.“Masukkan batang kote Arshad tu...!!!Mak dah puas,Arshad main la Mak sampai Arshad puas...!!!”Emak Mertua aku tu berkata kepada tak tahu apa nak hempap tubuh Emak Mertua aku tu dan tusukkan batang kote aku ke dalam lubang dia telah puas,dia membantu dengan mengerakkan bontot tonggeknya ke kiri,ke kanan,ke atas dan ke menyetubuhi Emak Mertua aku tu,aku ramas kedua-dua teteknya dan sekali-sekala aku rapatkan bibir aku ke aku lajukan sorongan dan adakalanya aku perlahankan dengan tujuan dapat membangkitkan keinginan nafsu seksnya semula walaupun terpaksa mengambil masa lama aku tidak sia-sia,kemutan lubang cipap Emak Mertua aku tu mula terasa,lidahnya mula minta dinyonyot dan kakinya mula berpaut kuat tetapi apakan daya,aku sudah tidak dapat bertahan dan dengan sekali hujam,batang kote aku terbenam sehingga ke pangkal dan terus menyemburkan air mani kasih ke dalam lubang cipap Emak Mertua aku tu buat kali pertama pada hari tersebut kali pertama secara keseluruhannya sehingga melimpah keluar bersama-sama dengan batang kote aku yang mula layu.“Maafkan Arshad,Mak...!!!Arshad tak boleh tahan lagi...!!!”kata aku kepada Emak Mertua aku tu.“Tak apa la,Sayang...!!!”Emak Mertua aku tu hanya menjawab sebegitu dan kami terus berpelukan dan berkucupan apabila jam tangan aku berbunyi terus membetulkan pakaian masing-masing dan meninggalkan tempat kami bermadu dengan insan-insan yang masih bergelimpangan melayari kasih di tempat penginapan kami,aku menghantar Emak Mertua aku tu sehingga ke beredar kami sempat berkulum lidah sambil dia meramas-ramas batang kote aku dan aku menjolok-jolok jari aku ke dalam lubang terus membaringkan tubuh aku di sebelah isteri aku dan terlena sehinggalah aku dikejutkan oleh isteri aku.“Bang,bangun...!!!Sejam lagi kita nak bertolak ke tempat perkelahan...!!!Semua dah bersedia...!!!Apa ni,tidur jauh malam,kan lepek dah...!!!Bangun cepat...!!!”kata isteri aku terasa kelat tetapi aku harus bergerak menuju ke bilik depan chalet aku lihat Emak Mertua aku tu sedang rancak bergurau dengan cucu-cucunya,tidak lagi terconggok senyap sendirian seperti memandang ke arah aku sambil nampak riang sekali hari mandi,aku terus masuk ke lihat isteri aku sedang berbaring di atas nampak aku masuk,dia mula berkata.“Bang,sebelum pergi,kita main sekejap...!!!”pintanya.“Wowww...!!!Boleh ker ni...???”dalam hati aku harus memikirkan sesuatu supaya keupayaan aku tidak ketara selepas berhempas pulas dengan Emaknya malam tadi.“Phew...!!!Apa aku nak buat ni...???Rasa macam tak sanggup...!!!”bisik hati aku tidak mengecewakannya aku memberi alasan. “Bukannya Abang tak nak,tapi kena minum Red Bull dulu...!!!Itupun selepas setengah jam baru boleh...!!!Jadi masa tak ada,Sayang...!!!Kita dah nak bertolak...!!!”penjelasan itu sudah cukup meyakin isteri mengalah tetapi dengan kata-kata.“Tapi malam nanti bagi Has tau...!!!”kata isteri aku hanya mampu untuk bertolak ke jeti untuk menaiki bot ke tempat perkelahan hampir sudah berada di pengkalan dan pelancong-pelancong sedang berbaris untuk menaiki atas bukit tempat penginapan kami jelas nampak bot besar yang tertambat di memanggil semua anak-anak aku dan adik-adik ipar aku supaya bergerak ke kelihatan Emak Mertua aku tu dan isteri memanggil isteri aku dan terdengar suara sahutan dari chalet Emak Mertua aku kemudian hanya isteri aku sahaja yang keluar dan aku bertanya di mana Emaknya.“Abang...!!!Abang jangan marah ye...!!!”kata isteri aku itu.“Kenapa...???”balas aku.“Mak takut dia mabuk lagi naik bot,jadi dia tak nak ikut...!!!Tapi takkan nak tinggalkan dia sorang di sini...!!!”jawab isteri aku.“OK la,Has tinggal dengan Mak,biar Abang bawa anak-anak...!!!”balas aku lagi.“Woi...!!!Woi...!!!Malam sikit ye...!!!Has pergi sama anak-anak,Abang temankan la Mak ye...!!!Abang dah pernah ke sini tapi Has baru sekali ini...!!!Jadi Abang kena la temankan Mak ye...!!!”balas isteri aku kepada tergamam sebentar dan memandang isteri aku dengan pandangan yang memeranjatkan sambil membalas.“OK...!!!Tapi jaga anak-anak baik-baik ye,jangan ada yang lemas...!!!”balas aku dan disahut oleh isteri aku yang telah sampai ke bawah bukit.“Jangan takut,Abang jaga Mak baik-baik tau...!!!”sahut isteri aku di bawah bukit dan terus menghilang menuju ke aku suka kerana tidak dapat berkelah bersama-sama anak-anak dan isteri peristiwa semalam akan Emak Mertua aku tu muncul di hadapan chaletnya sambil memandang meneriak kepadanya.“Mak,jom kita pergi sarapan dulu kat sana...!!!”teriak aku pada Emak Mertua aku Mertua aku tu terus berjalan menuju ke arah di samping aku,aku mengulang kembali kata-katanya semalam.“Jangan cakap apa-apa, kita buat macam diaorang...!!!”aku berkata kepada Emak Mertua aku Mertua aku tu hanya tersenyum mendengarkannya lalu aku kucup sekali di tersipu-sipu seolah-olah pimpin tangannya menuju ke gerai untuk bersarapan.“Mak makan kenyang-kenyang,nanti tak cukup tenaga pulak...!!!”aku memulakan perbualan.“Tenaga untuk apa,Sayang...???”Emak Mertua aku tu kemudiannya bertanya kepada aku.“Untuk main dengan saya la,Mak...!!!”aku terus membalas kepada Emak Mertua aku tu.“Ishhh,Arshad ni...!!!”sahut Emak Mertua aku bersarapan nasi lemak dan meminta lauk ketam Mertua aku tu begitu berselera sekali pagi ini.“Lepas ini kita nak pergi ke mana,Mak...???”aku bertanya kepada Emak Mertua aku tu.“Ke bilik la,nak pergi ke mana lagi...!!!”balas Emak Mertua aku tu kepada terasa gembira sekali dengan jawapan daripada Emak Mertua aku tu dan batang kote aku menunjukkan perasaannya sendiri dan mula bersarapan,kami berdua pun terus bergerak menuju ke tempat penginapan dan aku bertanya kepada Emak Mertua aku tu bahawa dia hendak di chalet aku atau chaletnya.“Dekat bilik Mak la,Sayang...!!!Kalau bersepah air mani dan peluh di bilik Arshad nanti macam mana...!!!Nanti Hasnah perasan baru padan muka...!!!”jawab Emak Mertua aku tu kepada akur dan terus menuju ke chalet Emak Mertua aku di dalam chalet,aku pun kemudiannya terus menguncikan pintu dan tingkap-tingkap dan memasang penghawa kemudiannya terus mendakap Emak Mertua aku tu dan menjilat hanya tegak membatu membiarkan perlakuan aku tanggalkan bajunya dituruti dengan tidak memakai seluar dalam dan berdiri la ia Emak Mertua aku tu hadapan aku tanpa seurat cuba menutup kedua-dua teteknya dengan telapak tangan tetapi aku kemudiannya terus mengarahkan Emak Mertua aku tu berdiri tegak di hadapan aku kerana aku katakan padanya bahawa aku hendak menatap tubuh yang melahirkan isteri duduk di tepi katil sambil memerhati setiap sudut 54 tidak nampak berkedut tetapi jelas sedikit kedutan di atas di atas kedua-dua teteknya sedikit kelihatan kasar tetapi kedua-dua teteknya sederhana dan licin masih gebu dan kelihatan sedikit lemak di tepi pinggang dan sebelah kanan bawah perutnya ada parut melintang dari kanan ke kiri,bekas pembedahan untuk mengikat tiub falopiannya bagi mengelakkan kehamilan setelah melahirkan 14 orang bermakna,seberapa banyak aku pancutkan air mani aku,Emak Mertua aku tu tidak akan tonggeknya kecil dan melurus dari peha ke puas aku menatap tubuh Emak Mertua aku tu,aku bangun dan menanggalkan pakaian aku dan bertelanjang bogel di aku menanggalkan seluar dalam aku,Emak Mertua aku tu memalingkan mukanya tetapi aku merapatinya lalu memegang kepalanya dan mengarahkan pandangannya kepada batang kote mengeraskan kepalanya untuk berpaling semula lalu aku berkata padanya.“Mak tak nak tengok benda yang masuk ke dalam lubang cipap Mak semalam tu ker...???”tanya aku kepada Emak Mertua aku berkata,Emak Mertua aku tu terus memusatkan pandangannya kepada batang kote aku mendongakkannya dan mengucup dia menyambut kucupan aku seolah-olah dia hendak berubah fikiran untuk tidak meneruskannya lalu aku terus meletakkan tangan aku pada kedua-dua teteknya dan perlahan-lahan meramas-ramas putingnya sehingga mulutnya terbuka dan menerima lidah masih berdiri sambil melayan perasaan mula merangkul leher aku dan sebelah tangannya membelai batang kote aku yang sememangnya telah mencodak semakin kencang,mendengus-dengus dengan dia meronta melepaskan tubuhnya dari dakapan tersentak seketika tetapi apabila dia terus naik ke atas katil dan terlentang mengangkang menampakkan lubang cipapnya dengan gaya seorang perempuan yang kelaparan seks,aku terus Emak Mertua aku tu terus mencapai batang kote aku dan menghalakannya ke lubang sekali henjut,seluruh batang kote aku terbenam ke dalam lubang cipap Emak Mertua aku tu buat kali pertama pada hari tersebut kali ke-2 secara keseluruhannya bersamaan dengan suaranya yang mengerang ini kami tidak pandai lagi melakukan “foreplay” maka itu kami terus sahaja bersetubuh. Setiap tolakkan masuk batang kote aku disambut dengan suara mengerang dari Emak Mertua aku batang kote aku semakin laju,seirama dengan ayakan bontot aku dinyonyot sambil tangan aku meramas-ramas kedua-dua teteknya sehinggalah tubuhnya mengejang dan mengigil akibat kepuasannya telah hentikan gerakanku seketika sambil menekan batang kote aku sedalam yang mungkin ke dalam lubang cipap Emak Mertua aku tu.“Uhhhhggg...uhhhhgggggg...!!!”garau keluar dari tengkorok Emak Mertua aku tu menandakan nikmat yang amat sangat diikuti dengan tubuh Emak Mertua aku tu yang terus longlai tidak keadaan reda,aku teruskan gerakan batang kote aku ke lubang cipap Emak Mertua aku kedinginan penghawa dingin pun tidak dapat menahan curahan peluh kami,bersatu membasahi tubuh dan tilam tempat kami memperlahankan gerakan batang kote aku yang licin keluar-masuk lubang cipap nikmat Emak Mertua aku tu yang telah dibasahi lendir yang terbit hasil nikmat persetubuhan Emak Mertua aku tu turun-naik dengan nafasnya yang kencang seperti orang yang baru menamatkan perlumbaan 100 meter di usia Emak Mertua aku tu 54 tahun,staminanya tidak sekuat keinginan nafsu seksnya lagi tetapi keperluan syahwat dan keinginan nafsu seksnya amat diperlukan untuk terus menikmati mengalah dan mencabut batang kote aku lalu berbaring di sebelahnya,menunggu sehingga kepenatannya keadaan lemah longlai itu tangan Emak Mertua aku tu terus mencapai batang kote aku dan membelai perlahan-lahan sehingga lendir di batang kote aku kering Mertua aku tu terus berpaling memandang aku sambil tersenyum puas.“Biar Mak rehat sekejap ye,Sayang...!!!”rayu Emak Mertua aku tu pada hanya menganggukkan kepala pada itu,aku terus meletakkan tangan aku pada lubang cipap Emak Mertua aku tu dan meraba-raba lubang nikmat membuka luas kelengkangnya supaya aku dapat terus mainkan jari-jari kerana terlalu keletihan,Emak Mertua aku tu bangun mencari tuala dan aku kesat sehingga kering lendir yang membasahi lubang cipap Emak Mertua aku kering,aku menghempapnya lalu memasukkan batang kote aku ke dalam lubang cipap nikmat Emak Mertua aku tu dan mengerakkannya Mertua aku tu terus membuka matanya dengan lesu dan membiarkan aku kurang 5 minit kemudian aku melepaskan air mani kasih aku ke dalam lubang cipap Emak Mertua aku tu buat kali pertama pada hari tersebut kali ke-2 secara keseluruhannya.Sekali lagi lubang cipap Emak Mertua aku tu dibasahi dengan air mani masih terlena dan setelah aku cabut batang kote aku keluar aku turut terlena di aku tersedar,jam dinding telah menunjukkan pukul 1230 tengahari dan perut aku terasa Mertua aku tu masih nyenyak dengan dengkuran bangun dan terus ke bilik mandi,membersihkan tubuh aku dan apabila aku keluar dari bilik air,dia masih duduk di kerusi di hadapan katil sambil menatap tubuh Emak Mertua aku hati aku bertanya sendiri,mengapakah mesti Emak Mertua aku tu menjadi perempuan selepas isteri aku yang aku bilakah hubungan ini akan berterusan...**********************************************************************Setelah sekian lama duduk memerhati tubuh Emak Mertua aku tu yang baru aku gauli dengan nikmatnya bertelanjang bulat di atas katil,aku bangun mengejutnya.“Mak...!!!Mak...!!!”terasa janggal pulak aku memanggilnya “Mak” selepas apa yang kami lakukan bersama.“Mak...!!!Bangun...!!!”aku terus cuba mengejutkan Emak Mertua aku Emak Mertua aku tu membuka matanya,bagai seorang yang baru dikejutkan dari mimpinya,dia cepat-cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang bertelanjang rambutnya yang kusut masai dan baru bangkit dari tidur barulah kelihatan seperti seorang perempuan tua seusia duduk di sisinya sambil memegang bahu dan berkata.“Mak,Arshad ni...!!!Bangun dulu dan kita pergi makan tengahari...!!!”aku terus berkata kepada Emak Mertua aku tu.“Ooohhh...Arshad...!!!”Emak Mertua aku tu menjawab kepada aku seolah-olah baru tersedar dari lamunan,lalu terus bangun dan melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya dan terus bergerak ke bilik bertuala aku mengikut Emak Mertua aku tu masuk ke dalam bilik telah merapatkan pintu bilik air lalu aku mengetuk untuk jawapan seketika lalu aku menolak pintu bilik air dan lihat seorang perempuan tua dan dia telah menanggalkan gigi palsunya sedang mencangkung membuang air air kencingnya,meleleh keluar lendir berwarna memandang ke bawah melihat lendir putih yang banyak sekali keluar bersama air kencingnya sambil berkata.“Banyaknya air mani Arshad dalam lubang cipap Mak ni,Sayang...!!!”Emak Mertua aku tu berkata kepada Emak Mertua aku tu mendongak semula memandang pada aku,wajahnya tanpa gigi palsunya tampak terlalu anehnya perasaan aku,keadaan wajahnya membuatkan aku semakin terangsang kuat lalu aku membuka tuala aku dan menunjukkan batang kote aku yang keras mencodak ke cuba menyembunyikan mukanya dengan menutupnya dengan kedua-dua belah bergerak rapat ke arah Emak Mertua aku tu yang sedang mencangkung dan menariknya bangun berdiri di hadapan kuakkan tangannya lalu menatap wajahnya tetapi dia cuba menundukkan wajahnya mengelak dari tatapan menundukkan kepala aku dan mencapai bibirnya dengan mulut aku tetapi dia berpaling dan berkata.“Jangan tengok Mak macam ni,Sayang...!!!Mak malu,Sayang...!!!”kata Emak Mertua aku tu kepada banyak bicara aku mengangkat Emak Mertua aku tu lalu membawanya keluar dari bilik air dan membaringkannya di atas telah terlalu terangsang dan tidak boleh mengawal perasaan aku kemudiannya terus naik ke atasnya dan mendepangkan kedua-dua memalingkan mukanya mengelak dari pandangan jerit kepada Emak Mertua aku tu.“Pandang sini...!!!”aku Mertua aku tu terkejut dengan suara aku yang meninggi tetapi dia menuruti arahan aku dan memandang ke arah merapatkan mulut aku ke mulut Emak Mertua aku tu yang tanpa belah mulutnya dengan lidah aku dan melahapnya dengan kote aku masih terletak di atas lepaskan tangannya,memaut rambutnya sambil liur kami bertakung dengan banyak sehingga meleleh-leleh keluar memaut tengkok aku dan kami terus berkucupan selama beberapa minit aku turun dari tubuhnya dan berbaring di mengiringkan tubuh aku dan lihat air mata Emak Mertua aku tu meleleh keluar dari menangis dengan menongkat kepala aku memandangnya dan sebelah tangan aku memegang kedua-dua teteknya.“Kenapa Mak menangis...???”aku bertanya kepada Emak Mertua aku tu.“Arshad,kita dah lakukan dosa besar...!!!Mak rasa berdosa pada Hasnah...!!!Mak kesian pada dia...!!!”Emak Mertua aku tu berkata kepada rasa kekesalan pada dirinya.“Mak rasa kita lupakan apa yang telah kita lakukan dan kembali seperti biasa...!!!”Emak Mertua aku tu menyambung hanya terdiam tanpa cuba mencium bibir Emak Mertua aku tu tetapi dia mengelak dan mengetapkan bibirnya dan terus berkata.“Walaupun Mak akan rasa kekosongan tetapi biar la ia berlalu dengan sendirinya...!!!Maafkan Mak,Sayang...!!!”kata Emak Mertua aku tu kepada begini membuatkan aku panik lantas aku terus bangun mengenakan pakaian aku dan beredar keluar dari chaletnya membiarkan Emak Mertua aku tu aku terus menuju ke restoran untuk mengisi perut aku yang lapar sambil melayani fikiran aku yang berserabut dengan seribu makan,aku duduk di jeti,cuba menenangkan fikiran Emak Mertua aku tu mengajar aku betapa enaknya perhubungan sumbang ini,tiba-tiba dalam sekelip mata dia cuba masih mengingini untuk meratah puas-puas akan aku hadapinya selepas ini...???.Aku bertekad untuk bersemuka dengan Emak Mertua aku tu sebelum isteri dan anak-anak aku pulang sekitar jam 630 petang aku menunjukkan pukul 230 petang dan Emak Mertua aku tu tidak kelihatan di pasti masih berada di terus menuju ke restoran untuk membelikan makanan untuk dibawa melangkahkan kaki aku menuju ke chaletnya dan sesampai di pintu chalet,aku mengetuk pintu dan Emak Mertua aku tu membuka sempat aku mengatakan sesuatu Emak Mertua aku tu mula bersuara.“Arshad,Mak nak cakap sikit dengan Arshad...!!!”kata Emak Mertua aku tu kepada aku lalu dia duduk di atas terus menghulurkan makanan yang aku belikan seraya berkata.“Nah,Mak...!!!Arshad belikan Mak nasi bungkus...!!!Mak makan la dulu...!!!Selepas ini kita boleh berbincang...!!!”aku berkata kepada Emak Mertua aku tu.“Takpe la,letak dulu atas meja ni...!!!Nanti Mak makan...!!Kita mesti bincang dulu...!!!”balas Emak Mertua aku tu kepada duduk di kerusi berhadapan dengan Emak Mertua aku tu lalu memusatkan pandangan aku ke Mertua aku tu cuba mengelak pandangan tidak memandang tepat pada jadi sedikit gementar untuk menghadapi suasana ini tetapi aku kuatkan semangat dan memulakan bicara.“Mak,kalau Mak nak bincang tentang apa yang kita dah lakukan,Arshad bertekad,walau apapun yang akan berlaku,Arshad tetap mahu main seks dengan Mak...!!!”aku terus berkata kepada Emak Mertua aku sempat aku menyambung kata-kata aku,dia menyampuk.“Arshad,apa yang kita lakukan ini berdosa,Sayang...!!!Mak tak tahu kenapa Mak buat macam ini,dengan menantu Mak pulak tu...!!!Terus-terang Mak katakan,Mak memang bernafsu kuat...!!!Selepas arwah Bapak meninggal,Mak masih boleh bertahan lagi tetapi sejak Pak Ayub mengusik-usik Mak hari itu,tiba-tiba Mak rasa Mak perlukannya lagi...!!!Keinginan nafsu seks Mak kembali lagi walaupun Mak dah tua ni...!!!”sampuk Emak Mertua aku tu.“Mak,keinginan nafsu seks akan hanya pergi selepas kita mati...!!!Selagi kita hidup,selagi itu kita akan mempunyai keinginan nafsu seks...!!!Semalam Mak dah ajar saya curang dengan isteri saya dan saya dah mula seronok main seks dengan Mak tapi tiba-tiba Mak nak cerita pasal dosa pulak...!!!Saya nak Mak faham betul-betul,saya tetap nak teruskan apa yang kita dah mulakan...!!!”aku berkata lagi kepada Emak Mertua aku aku mula meninggi.“Kita ikutkan saja hati kita,orang lain tak perlu tahu...!!!Bila saya hendak,Mak mesti bagi...!!!Kalau tidak saya akan lakukan perkara yang Mak tak ingin tahu...!!!Fahamkan itu dan jangan banyak cakap lagi...!!!”aku terus berkata lagi kepada Emak Mertua aku mula mengherdik Emak Mertua aku kelihatan terperanjat dengan laku aku dan menunjukkan kegelisahannya.“Sekarang makan dulu,lepas ini kita main seks bersama...!!!”aku menyambung dengan batang kote aku mula mengeras.“Mak belum lapar lagi...!!!Nanti karang Mak makan la...!!!”balas Emak Mertua aku tu terus memerintahnya.“Kalau begitu,cepat naik ke atas katil dan bukak baju Mak tu sekarang jugak...!!!Saya dah tak tahan nak main seks dengan Mak...!!!”aku berkata lagi kepada Emak Mertua aku sendiri terkejut dengan kata-kata yang aku keluarkan tetapi keinginan nafsu seks aku telah mengawal diri mesti menyetubuhinya Mertua aku tu kemudiannya terus bangun dan berlalu masuk ke dalam bilik,kemudiannya terus menanggalkan pakaiannya satu persatu dan baring meniarap di atas dengan masih berpakaian membaringkan diri di mengusap rambut Emak Mertua aku tu dan merapatkan bibir aku ke pipinya lalu dengan itu,Emak Mertua aku tu terus mengerengkan tubuhnya menghadap aku sambil tersenyum.“Mak,maafkan Arshad kerana berkasar dengan Mak tadi...!!!”aku mulakan berkata kepada Emak Mertua aku tu.“Kalau Mak nak lupakan bahawa kita telah buat perkara ni,Arshad akan bangun dan tinggalkan bilik ini...!!!”sambung aku sempat aku menghabiskan ayat aku,Emak Mertua aku tu terus menyambut cakap aku.“Dah la tu Arshad,kita dah terlanjur jauh...!!!Mak memang sangat perlukan seorang lelaki dalam hidup Mak ni,Sayang...!!!Kalau Arshad sudi,Arshad boleh jadi lelaki tu...!!!”kata Emak Mertua aku tu menyambut kata cuba mendapatkan kepastian daripadanya.“Maksud Mak,kita akan teruskan begini...???”aku menyambung dengan bertanya kepada Emak Mertua aku Mertua aku tu hanya menganggukkan kepalanya terasa lega kerana kini aku tidak berlawan dengan perasaan aku lagi dan tidak bertepuk sebelah seketika aku ketepikan perasaan aku terhadap isteri aku, kemudiannya terus menarik Emak Mertua aku tu naik ke atas tubuh aku dan kami berkucupan sambil tangan aku meraba-raba belakang aku singgah di bontot tonggek Emak Mertua aku tu yang berisi dan aku ramas-ramas perlahan-lahan.“Arshad,sebelum Hasnah dan anak-anak balik...!!!”kata Emak Mertua aku tu kepada faham maksudnya dan menyekat kata-katanya dengan menarik rapat mulutnya dan menolak lidah aku ke menyambut dengan menyonyot-nyonyot lidah memeluknya,aku mengolekkan badan dan menghempap meneruskan meraba ke kedua-dua teteknya dan meramas-ramas Emak Mertua aku tu semakin kuat dan telah menunjukkan tanda bersedia untuk kemudiannya terus bangun perlahan-lahan dan melepaskan kucupan kami lalu membuka baju dan seluar terlentang di katil sambil tangannya meraba-raba bibir lubang cipapnya yang kelihatan berkilat-kilat diselaputi lendirnya aku menghempap tubuh Emak Mertua aku tu lagi dan menemukan mulut berkucupan dan kedua-dua tetek Emak Mertua aku tu terhempap oleh dada mengesek-gesekkan tubuh kami dengan mengoyang-goyang kanan aku kemudiannya aku susurkan ke lubang cipap Emak Mertua aku tu dan memain-mainkan jari aku di aku jolokkan jari aku ke dalam lubang cipap nikmat Emak Mertua aku dengan itu,Emak Mertua aku tu terus mengoyang-goyangkan bontot tonggeknya.“Arshad...!!!Cepat masukkan,Sayang...!!!”Emak Mertua aku tu merayu pada itu,aku bangun dan memegang kedua-dua kaki Emak Mertua aku tu dan aku letakkan kepala batang kote aku ke mulut lubang cipap Emak Mertua aku tu dan menolak sedikit demi sedikit sehingga terbenam keseluruhannya batang kote aku ke dalam lubang cipap Emak Mertua aku tu buat kali ke-2 pada hari tersebut kali ke-3 secara keseluruhannya.Apabila kepala batang kote aku mencecah pangkal rahim Emak Mertua aku tu,dia mengerang rebahkan tubuh aku menghempap tubuh Emak Mertua aku tu sambil menyorong dan menarik batang kote aku keluar-masuk pejam menahan kenikmatan dari pergerakan merapat ke telinganya dan membisik.“Sedap tak,Mak...!!!”bisik aku kepada Emak Mertua aku hanya menganggukkan kepala dan aku menyambung lagi.“Kita buat selalu begini ye,Mak...!!!”bisik aku lagi kepada Emak Mertua aku membalas dengan suara tersekat-sekat menahan kenikmatan.“Arshad mesti selalu jenguk-jenguk Mak ye,Sayang...!!!Kita boleh main seks bersama selalu,Sayang...!!!”balas Emak Mertua aku tu dengan suara tersekat-sekat menahan aku menghentikan pergerakkan aku,Emak Mertua aku tu akan mengayak-ayak bontot tonggeknya seperti tak sabar untuk menikmati puncak teruskan gerakan sorong-tarik batang kote aku perlahan-lahan dan sekali-sekala aku henyak-henyak kali Emak Mertua aku tu menerima henyakkan aku,dia akan Emak Mertua aku tu mengayak bontot tonggeknya dengan laju sambil merayu.“Arshad,Mak nak sampai...Mak nak sampai...Mak nak sampai...!!!Laju...Laju lagi,Sayanggg...Ooohhh... Aaarrrggghhh...Aaahhh...Aaahhh...Aaahhhh...!!!” Emak Mertua aku tu mendesah-desah dengan itu aku melajukan pergerakan aku dan...“Uuuhhhh...Sampai,Sayanggg...!!!”desah nikmat daripada Emak Mertua aku tu dan kami sama-sama memancutkan air Emak Mertua aku tu mengeletar kenikmatan menerima air mani kasih aku ke dalam lubang cipapnya buat kali ke-2 pada hari tersebut kali ke-3 secara keseluruhannya.Mulut Emak Mertua aku tu mencari-cari mulut aku dan mengucup aku dengan sampai serentak dengan peluh membasahi tubuh pertarungan kami,kami sama-sama terbaring terlentang menghadap ke siling untuk menenangkan nafas kami kembali,masing-masing senyap tanpa berkata-kata buat aku menoleh pada Emak Mertua aku tu,dia tersenyum lemah bila mata kami kelihatan jugak dengan nafas kami kembali tenang,kami berpelukkan dan memberanikan diri menyatakan aku cinta padanya dan mahu kerap bersamanya apabila ada kesempatan dan Emak Mertua aku tu terus membalas dengan mengatakan dia jugak telah jatuh cinta pada aku dan terasa amat sayang pada aku,sebagai menantunya merangkap sebagai kekasihnya Mertua aku tu berjanji akan selalu menyerahkan tubuhnya untuk aku kerjakan selagi ada kesempatan yang memerlukan lelaki dan lelaki itu adalah kami membersihkan diri masing-masing untuk menyambut kepulangan isteri dan anak-anak aku,kami sempat bertarung sekali lagi buat kali ke-3 pada hari tersebut kali ke-4 secara keseluruhannya tetapi secara sederhana dengan penuh kasih mani aku telah memancut lagi ke dalam lubang cipap Emak Mertua aku tu buat kali ke-3 pada hari tersebut kali ke-4 secara keseluruhannya untuk kami merasa puas dan itu kami duduk di jeti,menunggu rombongan perkelahan pulang dan lagak kami seperti mertua dan menantu kami ingin duduk berpelukkan seperti pasangan lain yang duduk di jeti bersama-sama kami,kami terpaksa menahan perasaan tersebut.“Arshad,jangan sampai sesiapa sedar hubungan kita,terutama Hasnah dan anak-anak Mak yang lain ye...!!!Nanti kecoh jadinya...!!!”Emak Mertua aku tu memberitahu aku untuk memulakan menyampuk.“Kita sama-sama jaga perasaan kita depan diaorang semua walaupun saya ingin peluk Mak sentiasa...!!!”sampuk aku kepada Emak Mertua aku tu.“Mak jugak rasa macam tu...!!!Kalau boleh Mak nak Arshad peluk Mak selalu...!!!Mak tak pernah bercinta dan tak pernah tahu akan rasa cinta itu bagaimana agaknya tetapi hari ini Mak rasakan bahawa perasaan cinta pada Arshad begitu membara sekali...!!!Dulu Mak kahwin dengan arwah Bapak atas kehendak orang tua aje sehingga la Mak melahirkan 14 orang anak,perasaan cinta itu tidak pernah wujud dalam hidup Mak...!!!Mak cuma rasa bahawa hubungan Mak dengan arwah Bapak adalah kerana tanggungjawab Mak sebagai seorang isteri kepada suami sahaja...!!!”Emak Mertua aku tu mula bercerita dan aku hanya mendengarkan sahaja.“Hari ini Mak dapat rasakan cinta,cinta Mak pada Arshad...!!!Kalau la kita tidak ada hubungan muhrim,rasanya Mak nak aje kahwin dengan Arshad dan hidup bersama sebagai isteri Arshad supaya Mak dapat menikmati sepenuhnya rasa cinta yang tak pernah Mak alami selama ini,dan Mak nak nikmatinya sehingga ke akhir hayat Mak ni,Sayang...!!!”kata Emak Mertua aku tu lagi kepada aku.“Bagi saya Mak,saya pernah bercinta,cinta pada Hasnah,isteri saya dan anak Mak...!!!Mak pun tahu bagaimana saya lalui zaman itu 22 tahun lalu...!!!Saya sendiri yang beritahu Mak dan arwah Bapak bahawa saya cintakan anak Mak dan mahu mengahwininya...!!!Sehingga sekarang pun kami tetap macam dulu...!!!Kami masih menyintai antara satu sama lain...!!!”aku menjelaskan pada Emak Mertua aku tu.“Tapi pada hari ini,saya telah jatuh cinta pada Maknya pulak...!!!Dulu saya jelaskan pada Mak bagaimana saya cintakan anak Mak tetapi pada hari ini saya masih tetap cintakan Hasnah...!!!Pada hari ini jugak saya dapat rasakan cinta saya pada Mak...!!!Cinta bagi kali kedua ini amat berlainan dan hebat sekali...!!!Di sini,Mak di hadapan saya...!!!Saya tidak dapat menyentuh Mak di khalayak ramai,perasaan rindu saya pada Mak dah mula terasa apa lagi selepas ini kita akan berjauhan buat sementara dan akan berjumpa sekali-sekala jika ada kesempatan...!!!”jelas aku kepada Emak Mertua aku tu sempat berbual panjang,menjelaskan perasaan masing-masing dan merancang masa depan dan bagaimana kami dapat bertemu dan meneruskan hubungan kami supaya tidak dihidu oleh hari-hari seterusnya percutian ini kami berjanji tidak akan melakukan apa-apa supaya jauh dari syak wasangka sehinggalah Hasnah,anak-anak dan adik-adik ipar aku malam itu,kami semua makan teringatkan janji aku pada isteri aku untuk memuaskannya pada malam ragu-ragu jika aku akan mengecewakannya pada malam nanti kerana seluruh tenaga aku telah aku kerahkan untuk Emaknya siang itu,selepas makan aku minta izin pada isteri aku untuk merayau-rayau sendirian pada malam itu dan berjanji akan pulang awal untuk melayani keinginan nafsu seksnya tadi,keinginan nafsu seksnya memang sudah berkobar-kobar tetapi dia mengizinkan aku setelah aku membuat janji aku adalah untuk membeli minuman bertenaga “Red Bull” dan menongakknya supaya tenaga aku kembali untuk melayan isteri aku aku kurang baik,tidak terdapat kedai yang mula risau dan terus menyusur di gerai-gerai kampung berhenti untuk minum di sebuah gerai minuman untuk membasahkan tekakku apabila nasib menyebelahi itu ada menjual kopi Tongkat minum sehingga 2 gelas hingga badan aku berpeluh kepanasan walaupun cuaca malam itu dingin menghabiskan 2 gelas,aku pun beredar untuk pulang ke chalet dan ke bilik untuk bertarung kali kedua pulak,kini dengan isteri kopi Tongkat Ali tidak mengecewakan aku atau mungkin ketika aku menyetubuhi isteri aku,aku membayangkan Emak Mertua aku penting,isteri aku biasa,sebelum aku terpancut,dia sampai ke puncak nikmat sebanyak 2 kali dan terus terlena itu aku tidur nyenyak dan hanya sedar pada jam 600 pagi keluar bersiar-siar menyedut udara pagi di tepi aku turun dari chalet aku menoleh ke chalet Emak Mertua aku tidak belum bangun tidur kerana terlalu 730 pagi semua berkumpul untuk sarapan dan Emak Mertua aku tu saling pandang memandang rindu untuk memeluk Emak Mertua aku tu tetapi apakan Mertua aku tu jugak berperasaan menceritakan pada aku selepas kami dapat bersama,setelah pulang daripada hari itu,kami semua di bawa untuk membuat “Jungle Tracking” untuk berkelah di air terjun dan melihat hidupan liar di pulau ini,aku dan Emak Mertua aku tu ikut isteri aku suruh aku membantu memimpin kami mempunyai kesempatan tetapi kami dapat mengawal diri menunaikan janji berlagak sebagai menantu yang baik dan bertanggungjawab dan Emak Mertua aku tu menjalankan peranannya sebagai seorang tua yang tidak berdaya berjalan aku aku kelihatan bangga kerana aku nampak sayang dengan Emaknya dan menjaganya dengan itu berjalan dengan esoknya kami menghabiskan masa bersiar-siar di Kampung Salang kerana selepas makan tengahari kami akan pulang ke tanah besar di Mersing, kami bertolak pulang pada jam 200 kali ini,Emak Mertua aku tu tidak mabuk boleh naik dan turun sendiri dari sampai ke daratan pada jam 400 petang setelah lebih kurang 2 jam 430 petang kami terus bertolak dengan bas pelancongan untuk pulang ke aku dengan Emak Mertua aku tu berjalan dengan baik sehingga kehari ini tanpa dapat dihidu oleh hubungan kami telah berjalan selama 2 seorang kontraktor,masa aku tidak menyerahkan kerja-kerja pada pembantu pejabat ditangani oleh isteri aku dan adik-adik ipar kunjungan aku ke rumah Emak Mertua aku tu semakin kerap tanpa ditemani oleh isteri aku kerana terlalu sibuk dengan urusan pejabat yang sengaja aku Emak Mertua aku tu telah aku bilik khas untuk keluarga aku apabila kami berkunjung telah aku bina,yang sebenarnya adalah syurga bagi aku dan Emak Mertua aku tu untuk meneruskan hubungan kami memuaskan keinginan nafsu seks masing-masing lagaknya sebagai suami tersebut hanya aku yang memegang kuncinya dan adik-adik ipar aku yang amat hormat pada aku tidak sesekali mahu mengambil kisah apa yang berlaku dalam bilik jugak tidak pernah tahu sama ada aku ada dalam bilik tersebut atau tidak kerana ia terletak di tingkat tingkat 2 tersebut yang tidak pernah dinaiki oleh adik-adik ipar aku kerana mereka masing-masing aku binakan bilik sendiri lengkap dengan perabut dan aku belikan set hiburan dalam bilik atas hanya mempunyai bilik keluarga aku dan Emak Mertua aku itu apabila Emak Mertua aku tu naik ke atas,tiada siapa ambil Mertua aku tu akan dipanggil dari bawah sahaja apabila diperlukan dan jika dia keluar dari bilik aku pun tiada siapa akan itu kami berdua bebas melakukan apa sahaja ketika kami apabila kami bersetubuh,aku akan membuka HiFi dengan kuat supaya segala bunyi semasa kami sedang bersetubuh tidak akan isteri aku,selalu aku katakan bahawa aku kena kerja luar berhampiran dengan kampung Emak Mertua aku tu dan aku akan tidur atau berehat di rumah amat gembira sekali kerana aku kerap berkunjung dan menjenguk suatu ketika ketika aku sedang menyetubuhi Emak Mertua aku tu,telefon bimbit aku batang kote aku masih terbenam di dalam lubang cipap nikmat Emak Mertua aku tu,aku menjawab telefon bimbit telefon,isteri aku menanyakan aku berada di nyatakan aku sedang berehat di rumah menyakinkan dirinya,dia minta untuk bercakap dengan katakan bahawa Emaknya sedang berada di dapur tetapi dia tetap ingin bercakap dengan Emaknya lalu aku berpura-pura menjerit memanggil Emaknya sedangkan Emak Mertua aku tu sedang aku hempap dengan batang kote aku masih tertanam di dalam lubang senyapkan selang seminit dan kemudian aku serahkan telefon bimbit aku kepada Emak Mertua aku tu yang sedang aku Mertua aku tu mengambil telefon bimbit aku tersebut dan memulakan perbualan dengan anaknya sambil aku meneruskan henjutan batang kote teruskan menyorong-tarik batang kote aku,aku menghisap kedua-dua tetek Emak Mertua aku tu sedang dia terus berbual-bual dengan melihat wajah Emak Mertua aku tu menahan kenikmatan dari persetubuhan kami.“Has,Mak tak dapat berbual panjang ni,nanti hangus lauk atas dapur...!!!Nanti la kita berbual lagi ye...!!!”Emak Mertua aku tu cuba menamatkan perbualan telefon dengan isteri aku dan terus menyerahkan telefon bimbit kepada memastikan aku telah menutup telefon bimbit aku tu dan selepas itu Emak Mertua aku tu mengerang dengan kuat kerana terlalu nikmat dengan asakkan meneruskan persetubuhan kami sehingga ke kali aku berkunjung,akan berakhir dengan aku dan Emak Mertua aku tu sama-sama lemas melakukan persetubuhan merasa sungguh bahagia pada itu,peti sejuk di bilik aku sentiasa dipenuhi dengan air tin Tongkat Ali untuk aku dan air tin Manjakani untuk Emak Mertua aku hendak memulakan persetubuhan,kami akan sama-sama minum air-air tersebut dan bertahanlah persetubuhan kami berdua sehingga lebih kurang 2 Tongkat Ali,batang kote aku keras menegak dan dengan Manjakani,lubang cipap Emak Mertua aku tu sentiasa sempit seperti anak dara.....................ns
CERITA DEWASA - Sudah dua tahun ini aku menikah dengan Dea, dia seorang model iklan dan 6 bulan lalu, dia menjadi seorang bintang sinetron, sementara aku sendiri adalah seorang wiraswasta di bidang pompa kini 32 tahun, sedangkan Dea 21 tahun. Dea seorang yang cantik dengan kulit yang putih bersih mungkin karena keturunan dari ibunya. Aku pun bangga mempunyai istri secantik dia. Ibunya Dea, mertuaku, sebut saja Mama Ratih, orangnya pun cantik walau usianya sudah 39-tahun. Mama Ratih merupakan istri ketiga dari seorang pejabat negara ini, karena istri ketiga jadi suaminya jarang ada di rumah, paling-paling sebulan sekali. Sehingga Mama Ratih bersibuk diri dengan berjualan tinggal bersama istriku di rumah ibunya, walau aku sendiri punya rumah tapi karena menurut istriku, ibunya sering kesepian maka aku tinggal di mertua. Aku yang sibuk sekali dengan bisnisku, sementara Mama Ratih juga sibuk, kami jadi jarang berkomunikasi tapi sejak istriku jadi bintang sinetron 6 bulan lalu, aku dan Mama Ratih jadi semakin akrab malahan kami sekarang sering melakukan hubungan suami istri, inilah istriku sibuk syuting sinetron, dia banyak pergi keluar kota, otomatis aku dan mertuaku sering berdua di rumah, karena memang kami tidak punya pembantu. Tiga bulan lalu, ketika istriku pergi ke Jogja, setelah kuantar istriku ke stasiun kereta api, aku mampir ke rumah pribadiku dan baru kembali ke rumah mertuaku kira-kira jam malam. Ketika aku masuk ke rumah aku terkaget, rupanya mertuaku belum tidur. Dia sedang menonton TV di ruang keluarga.“Eh, Ma.. belum tidur…”“Belum, Tom… saya takut tidur kalau di rumah belum adaorang…”“Oh, Maaf Ma, saya tadi mampir ke rumah dulu.. jadi agak telat…”“Dea… pulangnya kapan?”“Ya… kira-kira hari Rabu, Ma… Oh.. sudah malam Ma, saya tidur dulu…”“Oke… Tom, selamat tidur…”Kutinggal Mama Ratih yang masih nonton TV, aku masuk ke kamarku, lalu tidur. Keesokannya, Sabtu Pagi ketika aku terbangun dan menuju ke kamar makan kulihat Mama Ratih sudah mempersiapkan sarapan yang rupanya nasi goreng, makanan favoritku.“Selamat Pagi, Tom…”“Pagi… Ma, wah Mama tau aja masakan kesukaan saya.”“Kamu hari ini mau kemana Tom?”“Tidak kemana-mana, Ma… paling cuci mobil…”“Bisa antar Mama, Mama mau antar pesanan berlian.”“Oke.. Ma…”Cerita Sex Mertuaku Yang Cantik Hari itu aku menemani Mama pergi antar pesanan dimana kami pergi dari jam sampai jam malam. Selama perjalanan, Mama menceritakan bahwa dia merasa kesepian sejak Dea makin sibuk dengan dirinya sendiri dimana suaminya pun jarang datang, untungnya ada diriku walaupun baru malam bisa berjumpa. Sejak itulah aku jadi akrab dengan Mama di rumah setelah berpergian seharian dan setelah mandi, aku dan Mama nonton TV bersama-sama, dia mengenakan baju tidur modelnya baju handuk sedangkan aku hanya mengenakan kaus dan celana pendek. Tiba-tiba Mama menyuruhku untuk memijat dirinya.“Tom, kamu capek nggak, tolong pijatin leher Mama yach… habis pegal banget nih…”“Dimana Ma?”“Sini.. Leher dan punggung Mama…”Aku lalu berdiri sementara Mama Ratih duduk di sofa, aku mulai memijat lehernya, pada awalnya perasaanku biasa tapi lama-lama aku terangsang juga ketika kulit lehernya yang putih bersih dan mulus kupijat dengan lembut terutama ketika kerah baju tidurnya diturunkan makin ke bawah dimana rupanya Mama Ratih tidak mengenakan BH dan payudaranya yang cukup menantang terintip dari punggungnya olehku dan juga wangi tubuhnya yang sangat menusuk hidungku.“Maaf, Ma… punggung Mama juga dipijat…”“Iya… di situ juga pegal…”Dengan rasa sungkan tanganku makin merasuk ke punggungnya sehingga nafasku mengenai lehernya yang putih, bersih dan mulus serta berbulu halus. Tiba-tiba Mama berpaling ke arahku dan mencium bibirku dengan bibirnya yang mungil nan lembut, rupanya Mama Ratih juga sudah mulai terangsang.“Tom, Mama kesepian… Mama membutuhkanmu…” Aku tidak menjawab karena Mama memasukkan lidahnya ke mulutku dan lidah kami yang ada di punggungnya ditarik ke arah payudaranya sehingga putingnya dan payudaranya yang kenyal tersentuh tanganku. Hal ini membuatku semakin terangsang, dan aku lalu merubah posisiku, dari belakang sofa, aku sekarang berhadapan dengan Mama Ratih yang telah meloloskan bajunya sehingga payudaranya terlihat jelas tertegun, rupanya tubuh Mama Ratih lebih bagus dari milik anaknya sendiri, istriku. Aku baru pertama kali ini melihat tubuh ibu mertuaku yang toples.“Tom, koq bengong, khan Mama sudah bilang, Mama kesepian…”“iya… iya.. iya Mah,”Ditariknya tanganku sehingga aku terjatuh di atas tubuhnya, lalu bibirku dikecupnya kembali. Aku yang terangsang membalasnya dengan memasukkan lidahku ke mulutnya. Lidahku disedot di dalam mulutnya. Tanganku mulai bergerilya pada payudaranya. Payudaranya yang berukuran 36B sudah kuremas-remas, putingnya kupelintir yang membuat Mama Ratih menggoyangkan tubuhnya karena yang mungil memegang batangku yang masih ada di balilk celana pendekku. Diusap-usapnya hingga batangku mulai mengeras dan celana pendekku mulai diturunkan sedikit, setelah itu tangannya mulai mengorek di balik celana dalamku sehingga tersentuhlah kepala batangku dengan tangannya yang lembut yang membuatku kami mulai bercucuran, payudaranya sudah tidak terpegang lagi tanganku tapi mulutku sudah mulai menari-nari di payudaranya, putingnya kugigit, kuhisap dan kukenyot sehingga Mama Ratih kelojotan, sementara batangku sudah dikocok oleh tangannya sehingga makin Sex Mertuaku Yang Cantik Tanganku mulai meraba-raba celana dalamnya, dari sela-sela celana dan pahanya yang putih mulus kuraba vaginanya yang berbulu lebat. Sesekali kumasuki jariku pada liang vaginanya yang membuat dirinya makin mengelinjang dan makin mempercepat kocokan tangannya pada 10 menit lamanya setelah vaginanya telah basah oleh cairan yang keluar dengan berbau harum, kulepaskan tanganku dari vaginanya dan Mama Ratih melepaskan tangannya dari batangku yang sudah keras. Mama Ratih lalu berdiri di hadapanku, dilepaskannya baju tidurnya dan celana dalamnya sehingga aku melihatnya dengan jelas tubuh Mama Ratih yang bugil dimana tubuhnya sangat indah dengan tubuh tinggi 167 cm, payudara berukuran 36B dan vagina yang berbentuk huruf V dengan berbulu lebat, membuatku menahan ludah ketika memandanginya.“Tom, ayo… puasin Mama…”“Ma… tubuh Mama bagus sekali, lebih bagus dari tubuhnya Dea…”“Ah… masa sih..”“Iya, Ma.. kalau tau dari 2 tahun lalu, mungkin Mamalah yang saya nikahi…”“Ah.. kamu bisa aja…”“Iya.. Ma.. bener deh..”“Iya sekarang.. puasin Mama dulu.. yang penting khan kamu bisa menikmati Mama sekarang…”“Kalau Mama bisa memuaskan saya, saya akan kawini Mama…”Mama lalu duduk lagi, celana dalamku diturunkan sehingga batangku sudah dalam genggamannya, walau tidak terpegang semua karena batangku yang besar tapi tangannya yang lembut sangat mengasyikan.“Tom, batangmu besar sekali, pasti Dea puas yach.”“Ah.. nggak. Dea.. biasa aja Ma…”“Ya.. kalau gitu kamu harus puasin Mama yach…”“Ok… Mah…”Mulut mungil Mama Ratih sudah menyentuh kepala batangku, dijilatnya dengan lembut, rasa lidahnya membuat diriku kelojotan, kepalanya kuusap dengan lembut. Batangku mulai dijilatnya sampai biji pelirku, Mama Ratih mencoba memasukkan batangku yang besar ke dalam mulutnya yang mungil tapi tidak bisa, akhirnya hanya bisa masuk kepala batangku saja dalam ini pun sudah membuatku kelojotan, saking nikmatnya lidah Mama Ratih menyentuh batangku dengan lembut. Hampir 15 menit lamanya batangku dihisap membuatnya agak basah oleh ludah Mama Ratih yang sudah tampak kelelahan menjilat batangku dan membuatku semakin mengguncang itu Mama Ratih duduk di Sofa dan sekarang aku yang jongkok di hadapannya. Kedua kakinya kuangkat dan kuletakkan di bahuku. Vagina Mama Ratih terpampang di hadapanku dengan jarak sekitar 50 cm dari wajahku, tapi bau harum menyegarkan vaginanya menusuk hidungku.“Ma, Vagina Mama wangi sekali, pasti rasanya enak sekali yach.”“Ah, masa sih Tom, wangi mana dibanding punya Dea dari punya Mama.”“Jelas lebih wangi punya mama dong…”“Aaakkhh…”Vagina Mama Ratih telah kusentuh dengan lidahku. Kujilat lembut liang vagina Mama Ratih, vagina Mama Ratih rasanya sangat menyegarkan dan manis membuatku makin menjadi-jadi memberi jilatan pada vaginanya.“Ma, vagina… Mama sedap sekali.. rasanya segar…”“Iyaaaah… Tom, terus… Tom… Mama baru kali ini vaginanya dijilatin… ohhh.. terus… sayang…”Cerita Sex Mertuaku Yang Cantik Vagina itu makin kutusuk dengan lidahku dan sampai juga pada klitorisnya yang rasanya juga sangat legit dan menyegarkan. Lidahku kuputar dalam vaginanya, biji klitorisnya kujepit di lidahku lalu kuhisap sarinya yang membuat Mama Ratih menjerit keenakan dan tubuhnya menggelepar ke kanan ke kiri di atas sofa seperti cacing kepanasan.“Ahh… ahh.. oghh oghh… awww.. argh.. arghh.. lidahmu Tom… agh, eena… enakkkhh.. aahh… trus.. trus…”Klitoris Mama Ratih yang manis sudah habis kusedot sampai berulang-ulang, tubuh Mama Ratih sampai terpelintir di atas sofa, hal itu kulakukan hampir 30 menit dan dari vaginanya sudah mengeluarkan cairan putih bening kental dan rasanya manis juga, cairan itupun dengan cepat kuhisap dan kujilat sampai habis sehingga tidak ada sisa baik di vaginanya maupun paha mama Ratih.“Ahg… agh… Tom… argh… akh.. akhu… keluar.. nih… ka.. kamu.. hebat dech…” Mama Ratih langsung ambruk di atas sofa dengan lemas tak berdaya, sementara aku yang merasa segar setelah menelan cairan vagina Mama Ratih, langsung berdiri dan dengan cepat kutempelkan batang kemaluanku yang dari 30 menit lalu sudah tegang dan keras tepat pada liang vagina Mama Ratih yang sudah kering dari Ratih melebarkan kakinya sehingga memudahkanku menekan batangku ke dalam vaginanya, tapi yang aku rasakan liang vagina Mama Ratih terasa sempit, aku pun keheranan.“Ma… vagina Mama koq sempit yach… kayak vagina anak gadis.”“Kenapa memangnya Tom, nggak enak yach…”“Justru itu Ma, Mama punya sempit kayak punya gadis. Saya senang Ma, karena vagina Dea sudah agak lebar, Mama hebat, pasti Mama rawat yach?”“Iya, sayang.. walau Mama jarang ditusuk, vaginanya harus Mama rawat sebaik-baiknya, toh kamu juga yang nusuk…”“Iya Ma, saya senang bisa menusukkan batang saya ke vagina Mama yang sedaaap ini…”“Akhhhh… batangmu besar sekali…”Vagina Mama Ratih sudah terterobos juga oleh batang kemaluanku yang diameternya 4 cm dan panjangnya 28 cm, setelah 6 kali kuberikan kugerakan maju-mundur menekan vagina Mama Ratih yang sudah tertusuk oleh batangku, Mama Ratih hanya bisa menahan rasa sakit yang enak dengan memejamkan mata dan melenguh kenikmatan, badannya digoyangkan membuatku semakin semangat menggenjotnya hingga sampai semua batangku masuk ke vaginanya.“Tom.. nggehhh.. ngghhh.. batangmu menusuk sampai ke perut.. nich.. agggghhh.. agghhh.. aahhh.. eenaakkhh…” Aku pun merasa keheranan karena pada saat masukkan batangku ke vaginanya Mama Ratih terasa sempit, tapi sekarang bisa sampai tembus ke Sex Mertuaku Yang Cantik Payudara Mama Ratih yang ranum dan terbungkus kulit yang putih bersih dihiasi puting kecil kemerahan sudah kuterkam dengan mulutku. Payudara itu sudah kuhisap, kujilat, kugigit dan kukenyot sampai putingnya mengeras seperti batu kerikil dan Mama Ratih belingsatan, tangannya membekap kepalaku di payudaranya sedangkan vaginanya terhujam keras oleh batangku selama hampir 1 jam lamanya yang tiba-tiba Mama Ratih berteriak dengan lenguhan karena cairan telah keluar dari vaginanya membasahi batangku yang masih di dalam vaginanya, saking banyaknya cairan itu sampai membasahi pahanya dan pahaku hingga berasa lengket. “Arrrgghhhh.. argghhh.. aakkkhh.. Mama… keluar nich Tom… kamu belum yach..?” Aku tidak menjawab karena tubuhnya kuputar dari posisi terlentang dan sekarang posisi menungging dimana batangku masih tertancap dengan kerasnya di dalam vagina Mama Ratih, sedangkan dia sudah lemas tak vagina Mama Ratih berkali-kali sementara Mama Ratih yang sudah lemas seakan tidak bergerak menerima hujaman batangku, Payudaranya kutangkap dari belakang dan kuremas-remas, punggungnya kujilat. Hal ini kulakukan sampai 1 jam kemudian di saat Mama Ratih meledak lagi mengeluarkan cairan untuk yang kedua kalinya, sedangkan aku mencapai puncak juga dimana cairanku kubuang dalam vagina Mama Ratih hingga banjir ke kain sofa saking banyaknya cairanku yang keluar.“Akhh.. akh.. Ma, Vagina Mama luar biasa sekali…” Aku pun ambruk setelah hampir 2,5 jam merasakan nikmatnya vagina mertuaku, yang memang nikmat, meniban tubuh Mama Ratih yang sudah lemas lebih dan Mama terbangun sekitar jam malam dan kami pindah tidur ke kamar Mama Ratih, setelah terbaring di sebelah Mama dimana kami masih sama-sama bugil karena baju kami ada di sofa, Mama Ratih memelukku dan mencium pipiku.“Tom, Mama benar-benar puas dech, Mama pingin kapan-kapan coba lagi batangmu yach, boleh khan…”“Boleh Ma, saya pun juga puas bisa mencoba vagina Mama dan sekarangpun yang saya inginkan setiap malam bisa tidur sama Mama jika Dea nggak pulang.”“Iya, Tom.. kamu mau ngeloni Mama kalau Dea pergi?”“Iya Ma, vagina Mama nikmat sih.”“Air manimu hangat sekali Tom, berasa dech waktu masuk di dalam vagina Mama.”“Kita Main lagi Ma…?”“Iya boleh…”Kami pun bermain dalam nafsu birahi lagi di tempat tidur Mama hingga menjelang ayam berkokok baru kami tidur. Mulai hari itu aku selalu tidur di kamar Mama jika istriku ada syuting di luar kota dan ini berlangsung sampai sekarang. POKER ONLINE
cerita dewasa dengan ibu mertua